Kerokan Saat Masuk Angin, Aman atau Berbahaya?
Benarkah makin merah kerokan makin banyak anginnya? Kenali kerokan dan gua sha, pandangan TCM soal angin, hasil penelitian, siapa yang perlu menghindari, dan tanda bahaya.


Ilustrasi: Kerokan atau gua sha dengan alat halus dan minyak di punggung
Malam itu Pak Darto pulang naik motor menembus gerimis. Sampai di rumah, perutnya kembung, badannya meriang, tengkuknya kaku seperti ditarik. Tanpa banyak tanya, istrinya mengambil uang logam dan sebotol minyak kayu putih. Lima belas menit kemudian, punggung Pak Darto penuh garis merah keunguan. "Tuh, anginnya banyak," kata sang istri puas. Esok paginya Pak Darto merasa jauh lebih enteng. Tapi waktu anak tetangganya, seorang perawat, melihat punggungnya, ia hanya mengernyit dan berkata, "Hati-hati lho, Pak, jangan sembarangan." Jadi, siapa yang benar?
Artikel ini disusun oleh Tim Petos Sehat Estetika untuk menelusuri kebiasaan yang hampir semua orang Indonesia pernah alami: kerokan saat masuk angin. Kita akan melihatnya dari Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) yang menjadi dasar pendekatan Petos Sehat, dari penelitian kedokteran modern sebagai pendukung, dan dari sisi keamanannya, supaya kebiasaan turun-temurun ini bisa dilakukan dengan lebih bijak.
Masuk angin: satu istilah, banyak keluhan
Kembung, sering bersendawa, meriang, pegal di punggung, kepala berat, kadang mual. Semua itu sering diringkas dalam dua kata: masuk angin. Penelitian Prayoga dan Pradipto di ANIMA Indonesian Psychological Journal (2014) menggambarkan masuk angin sebagai proses masuknya angin ke dalam tubuh yang dianggap menimbulkan sakit. Para penulisnya mencatat konsep ini tetap kabur karena dipakai untuk menamai sekumpulan gejala, dan mereka melihatnya sebagai identitas pola hidup sehat orang Jawa yang memandu perilaku menjaga kesehatan sehari-hari.
Antropolog UGM Atik Triratnawati dalam Jurnal Humaniora (2012) menjelaskan bahwa makna masuk angin tidak bisa dilepaskan dari kosmologi Jawa: sehat dan sakit dipahami sebagai soal keseimbangan, sehingga menangani masuk angin berarti mengembalikan keseimbangan itu. Di sisi lain, artikel Kementerian Kesehatan RI (2022) mengingatkan bahwa istilah masuk angin sebenarnya tidak dikenal dalam ilmu kedokteran, walaupun gejala-gejalanya sangat akrab bagi kita. Artinya, "masuk angin" lebih tepat dipahami sebagai bahasa sehari-hari untuk tubuh yang sedang tidak nyaman, bukan nama satu penyakit tertentu.
Angin dalam pandangan TCM: feng (风) yang datang dari luar
Menariknya, gagasan bahwa angin bisa membuat sakit juga sangat tua dalam TCM. Angin disebut feng (风) dan digolongkan sebagai salah satu faktor penyebab dari luar tubuh. Tinjauan praktisi akupunktur Attilio D'Alberto tentang perkembangan konsep angin dalam TCM mengutip kitab klasik Huangdi Neijing Suwen yang menyebut angin sebagai awal dari seratus penyakit, dan menempatkannya di urutan pertama dari enam faktor iklim yang dapat "menumpangi" faktor lain seperti dingin.
Menurut tinjauan yang sama, angin dari luar masuk lewat kulit, mulut, atau hidung, terutama ketika wei qi atau energi pelindung tubuh sedang lemah. Bila angin datang bersama dingin (angin-dingin), tanda yang khas adalah meriang disertai demam, rasa tidak tahan terhadap angin, tidak berkeringat, sakit kepala di bagian belakang, dan leher kaku. Kitab Shang Han Lun bahkan menyebut titik Fengchi dan Fengfu, keduanya di bagian belakang kepala dan tengkuk, untuk kondisi ini.
Dokter TCM Taiwan Wang Dayuan dalam artikel TVBS Health (2022) menjelaskan bahwa punggung dilalui meridian Du dan meridian Kandung Kemih yang dianggap mengatur aliran energi yang (yang qi), dan dingin sering mulai menyerang dari punggung. Titik Fengmen ("gerbang angin") di punggung atas dan Fengchi di tengkuk disebutnya sebagai tempat yang mudah dimasuki dingin, sehingga leher dan punggung perlu dijaga tetap hangat.
Kerokan dan gua sha (刮痧): saudara dekat
Kerokan punya saudara dekat di Tiongkok bernama gua sha (刮痧), dan artikel Kementerian Kesehatan RI pun menyebut kerokan dikenal sebagai gua sha di negeri itu. Menurut ulasan Jonathan Jarry dari McGill Office for Science and Society (2026), jejak gua sha ditelusuri hampir 2.000 tahun ke belakang, sekitar akhir Dinasti Han, dan praktiknya juga populer di Asia Tenggara. Gua berarti mengerok atau menggaruk, sedangkan sha bisa berarti pasir atau ruam merah yang sedikit menonjol. Ringkasnya: kerok sampai "sha" muncul.
Tekniknya pun mirip. Laman Spine-health yang merujuk pada penjelasan Arya Nielsen, PhD, peneliti gua sha terkemuka, menggambarkan kulit diolesi minyak pijat atau pelicin lain, lalu digores dengan sendok atau benda berujung bulat dan tumpul dalam sapuan pendek ke arah bawah. Sapuan di atas area bertulang, seperti tulang leher, dibuat lebih lembut daripada di area berotot. Di Indonesia, alatnya biasanya uang logam dengan minyak kayu putih atau balsem; di Tiongkok, alatnya bisa berupa lempeng batu giok, tanduk, atau sendok keramik. Perbedaan utamanya justru ada pada cara memandangnya: kerokan lahir dari keyakinan "mengeluarkan angin", sedangkan gua sha dalam TCM dikaitkan dengan melancarkan qi dan darah di permukaan tubuh.
Kenapa kulit jadi merah setelah dikerok?
Garis merah itu bukan angin yang keluar. Nielsen dan rekan dalam Complementary Therapies in Medicine (2012) menjelaskan bahwa gua sha memang dimaksudkan memunculkan petekie (bintik perdarahan kecil) dan ekimosis (memar), yaitu darah yang keluar dari pembuluh kapiler ke jaringan di bawah kulit. Cleveland Clinic menyebut petekie terjadi karena pecahnya kapiler halus, dan bahwa reaksi ini diduga memicu respons antiradang, meski belum terbukti secara ilmiah.
Gambaran serupa terlihat pada penelitian histopatologi kulit setelah kerokan yang tersimpan di repositori Universitas Sebelas Maret. Di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 kali, peneliti menemukan pengikisan lapisan kulit terluar (stratum korneum), pembengkakan jaringan di bawah epitel, pelebaran kapiler, sedikit sel radang, dan sel darah merah di luar pembuluh darah. Kesimpulannya: kerokan menimbulkan reaksi radang, tetapi peneliti tidak menemukan kerusakan kulit.
Berapa lama bekasnya hilang? Spine-health menyebut kemerahan biasanya memudar dalam 2–4 hari, sedangkan Henry Ford Health menulis bekasnya hilang perlahan dalam 1–2 minggu.
Mitos: makin merah, makin banyak anginnya?
Inilah keyakinan yang paling sering kita dengar di rumah. Menurut Alodokter, sampai sekarang belum ada penelitian yang membuktikan bahwa warna merah menandakan banyaknya angin di dalam tubuh. Warna merah justru dipengaruhi tekanan: makin keras dan makin lama kulit digosok, makin banyak kapiler yang pecah, sehingga kulit tampak makin merah. Artikel Kementerian Kesehatan RI juga menegaskan bahwa warna merah yang makin pekat tidak berarti angin yang masuk makin banyak.
Spine-health menambahkan bahwa besar dan gelapnya bintik bisa berbeda-beda sesuai kondisi tubuh dan keterampilan orang yang melakukannya. Jadi, kerokan yang menghasilkan warna paling pekat bukan berarti kerokan yang paling berhasil. Mengejar warna merah dengan menekan sekuat tenaga hanya menambah risiko lecet.
Apa kata penelitian?
Penelitian tentang kerokan khas Indonesia masih sangat sedikit, sehingga rujukan ilmiah kebanyakan datang dari gua sha. Studi percontohan Nielsen dan rekan di jurnal Explore (2007) mengukur aliran darah mikro di permukaan kulit 11 sukarelawan sehat dengan laser Doppler. Setelah satu kali gua sha, aliran darah mikro di area yang dikerok naik sekitar empat kali lipat selama 7,5 menit pertama, dan tetap meningkat secara bermakna sepanjang 25 menit pengamatan. Semua peserta merasakan nyeri otot berkurang segera, dan tidak ada efek samping yang dilaporkan.
Penelitian pada hewan oleh Kwong dan rekan di Journal of Visualized Experiments (2009) menggunakan mencit yang direkayasa agar aktivitas gen heme oxygenase-1 (HO-1) bisa dilihat dengan pencitraan cahaya. Kulit punggung mencit diolesi pelicin dan digores dengan tepi sendok yang halus sampai muncul petekie. Aktivitas HO-1, enzim yang sudah lama dikenal melindungi sel dari stres oksidatif, kemudian dipantau di beberapa organ dalam selama beberapa hari. Hasil ini menarik, tetapi masih pada hewan.
Pada manusia dengan keluhan, uji acak terkontrol Braun dan rekan di jurnal Pain Medicine (2011) melibatkan 48 pasien nyeri leher kronis di Jerman: 24 orang mendapat satu kali gua sha dan 24 orang memakai bantal pemanas. Seminggu kemudian, nyeri pada kelompok gua sha turun lebih banyak, dengan selisih 29,9 mm pada skala nyeri 100 mm, disertai perbaikan fungsi leher. Penulisnya sendiri menegaskan manfaat jangka panjang dan mekanismenya masih belum jelas.
Ulasan McGill memberi catatan penyeimbang yang penting: kebanyakan penelitian gua sha kecil, dilakukan di satu pusat, tanpa pemantauan jangka panjang, dan tidak bisa dibuat buta karena tidak ada versi "pura-pura" dari gua sha. Efek pada aliran darah pun bersifat sementara. Cleveland Clinic juga mengutip tinjauan 2010 yang menilai bukti untuk meredakan nyeri belum cukup, meski tidak menutup kemungkinan. Kesimpulan yang adil: gua sha dan kerokan bisa membuat badan terasa lebih ringan dan otot lebih rileks untuk sementara, tetapi bukan jawaban untuk semua keluhan yang kita sebut masuk angin.
Siapa yang sebaiknya tidak dikerok?
Karena kerokan sengaja membuat kapiler pecah, ada kelompok yang perlu menahan diri. Henry Ford Health menyebut gua sha tidak boleh diberikan pada orang dengan kanker, alat pacu jantung atau defibrilator, gangguan perdarahan atau pembekuan darah, gumpalan darah, kondisi kulit yang belum terdiagnosis atau benjolan, kambuhnya penyakit kulit, kulit tipis atau sensitif, luka terbuka, luka bakar, kondisi kulit yang buruk, dan gagal organ. Orang yang hamil, sedang menstruasi, minum obat pengencer darah, mengalami anemia, neuropati, penyakit pembuluh darah tepi, atau baru donor darah kurang dari dua bulan hanya boleh menjalaninya dengan hati-hati dan setelah berkonsultasi dengan dokter.
Cleveland Clinic menambahkan bahwa gua sha mungkin tidak cocok untuk penderita gangguan sirkulasi, diabetes, eksim atau psoriasis, pengguna obat pengencer darah seperti aspirin, mereka yang sedang menjalani kemoterapi, dan ibu hamil. Gua sha juga tidak boleh dilakukan di atas kulit yang teriritasi atau meradang, misalnya ruam, luka, atau kulit terbakar matahari. Dokter TCM Chen Zhuoquan dalam artikel TVBS Health (2023) juga meminta orang tua, orang dengan tubuh lemah, dan penderita penyakit kronis untuk ekstra berhati-hati.
Ada satu risiko lagi yang jarang disadari: kebersihan alat. Nielsen dan rekan mengingatkan bahwa darah kadang bisa keluar ke permukaan kulit, sehingga alat bisa terkontaminasi dan berisiko menularkan penyakit lewat darah. Ulasan McGill mencatat kasus infeksi bakteri Mycobacterium massiliense akibat batu gua sha yang dipakai ulang tanpa disterilkan, yang membutuhkan antibiotik selama berbulan-bulan. Uang logam yang baru keluar dari dompet jelas bukan alat yang bersih.
Cara kerokan yang lebih aman
Bila tubuh sehat dan tidak termasuk kelompok di atas, kerokan bisa dilakukan dengan lebih aman. Mulailah dari alat: pakai alat yang halus dan berujung tumpul, sebaiknya milik pribadi, dan bersihkan sebelum serta sesudah dipakai. Lalu oleskan minyak, lotion, atau balsem supaya kulit licin; Alodokter menyarankan minyak aromaterapi atau balsem yang mengandung peppermint atau kamper agar terasa hangat.
Pilih area yang tepat, yaitu punggung, leher, bahu, atau lengan menurut Alodokter, dan hindari tonjolan tulang seperti tulang belakang. Cleveland Clinic menyarankan sapuan satu arah yang lurus dan halus, bukan bolak-balik. Mulailah perlahan dan lembut, lalu naikkan tekanan sedikit demi sedikit tanpa berlebihan. Dokter TCM Chen Zhuoquan menyarankan tekanan ringan dan berhenti begitu bintik merah muncul, sedangkan artikel TVBS Health (2024) bersama dokter TCM Alice juga menyebut cukup mengerok sampai petekie terlihat. Jadi, tidak perlu menunggu sampai merah keunguan.
Setelah kerokan, beri tubuh waktu. Spine-health menyarankan bersantai sepanjang sisa hari dan menghindari alkohol, sementara Henry Ford Health meminta area yang dikerok dijaga tetap bersih, kering, dan tertutup, serta minum air yang cukup. Sejalan dengan pesan Wang Dayuan untuk menjaga tengkuk dan punggung tetap hangat, hindari langsung duduk di depan kipas angin atau embusan AC, dan pakai baju yang menutup punggung.
Satu catatan dari sisi TCM: tidak semua "masuk angin" cocok dikerok. Dokter Chen Zhuoquan menjelaskan bahwa mengerok punggung dianggap merangsang meridian di permukaan tubuh untuk mengeluarkan panas, dan cocok untuk kondisi kepanasan akibat banyak kehilangan cairan di bawah terik. Untuk kondisi akibat bolak-balik antara panas di luar dan dingin AC di kantor, dengan dada sesak, tungkai berat, dan lemas, ia menyebut kerokan tidak membantu.
Kapan "masuk angin" perlu segera ke dokter?
Bagian ini paling penting. Dokter spesialis jantung Melisa Aziz dalam artikel detikHealth (2026) menjelaskan bahwa serangan jantung bisa terasa seperti masuk angin: nyeri dada yang berat seperti ditindih, nyeri di ulu hati atau perut tengah kadang tanpa nyeri dada, sesak napas mendadak, jantung berdebar, keringat dingin yang banyak, serta mual atau muntah. Dokter Muhammad Yamin dalam artikel yang sama menyebut pola klasiknya adalah nyeri dada di tengah yang menjalar ke leher atau lengan kiri, dipicu aktivitas, olahraga, atau emosi, walaupun 5–10 persen kasus menunjukkan gejala yang berbeda.
Pesan serupa sudah lama disampaikan. Dalam seminar di UGM, dokter spesialis jantung Lucia Krisdinarti mengingatkan bahwa nyeri dada sekitar 30 menit saat istirahat bisa menjadi tanda penyakit jantung koroner, dan banyak orang terlambat karena mengira gejalanya hanya masuk angin. Pasien sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit. Alodokter juga menyarankan segera ke IGD bila muncul demam tinggi, muntah terus-menerus, atau nyeri dada, dan memeriksakan diri ke dokter bila keluhan tidak membaik setelah kerokan. Terlebih bagi orang tua dan mereka yang punya faktor risiko, jangan menunda dengan kerokan lebih dulu.
Bila punggung dan leher terasa kaku
Banyak keluhan yang kita sebut masuk angin sebenarnya berawal dari otot punggung, bahu, dan leher yang tegang karena kelelahan, duduk lama, atau udara dingin. Terapis Petos Sehat Estetika membantu meredakannya dengan Tuina, terapi pijat dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) yang mengendurkan otot di sepanjang jalur meridian, Akupresur pada titik seperti Fengchi di tengkuk, Manual Therapy untuk melemaskan otot dan sendi yang kaku, serta Bone Setting untuk membantu mengembalikan keselarasan postur. Tekanan disesuaikan bertahap sesuai respons tubuh, tanpa perlu meninggalkan bekas merah.
Sebelum terapi, terapis mengecek kondisi Anda di lokasi, termasuk menanyakan obat yang sedang diminum dan kondisi kulit, lalu menyesuaikan teknik dan tekanan dengan respons tubuh.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah kerokan berbahaya?
Pada orang sehat, kerokan yang lembut dengan alat bersih umumnya ditoleransi baik. Kerokan perlu dihindari pada orang dengan gangguan perdarahan, pengguna obat pengencer darah, kulit luka atau sensitif, dan kondisi lain yang disebut di atas.
Benarkah makin merah kerokan, makin banyak anginnya?
Tidak ada penelitian yang membuktikannya. Warna merah berasal dari kapiler halus yang pecah, dan makin keras gosokan, makin merah kulitnya.
Apa beda kerokan dan gua sha?
Keduanya menggores kulit yang diolesi minyak dengan alat tumpul. Kerokan berakar pada keyakinan mengeluarkan angin, sedangkan gua sha berasal dari TCM dan dikaitkan dengan melancarkan qi dan darah.
Berapa lama bekas kerokan hilang?
Umumnya memudar dalam 2–4 hari, dan pada sebagian orang bisa sampai 1–2 minggu.
Kapan masuk angin harus ke dokter?
Segera ke IGD bila ada nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, nyeri menjalar ke lengan kiri atau leher, demam tinggi, atau muntah terus-menerus.
Punggung dan tengkuk sering kaku setelah kehujanan atau kerja seharian? Konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.
Konsep angin (feng), meridian, qi, dan titik akupresur dalam artikel ini adalah teori Pengobatan Tradisional Tiongkok, bukan hasil uji klinis modern. Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis. Bila ada keluhan dada, sesak napas, atau demam tinggi, segera hubungi dokter atau IGD.
