Kurang Vitamin D di Negeri Tropis? Ini Penjelasannya

Badan gampang pegal padahal tinggal di negeri tropis? Kenali peran vitamin D untuk tulang dan otot, cara cek kadarnya, dan pandangan TCM soal berjemur.

Tim Petos Sehat

10/23/20266 min read

Perempuan berhijab berjemur di bawah sinar matahari pagi di teras rumah
Perempuan berhijab berjemur di bawah sinar matahari pagi di teras rumah

Ilustrasi: Berjemur pagi, salah satu cara tubuh membentuk vitamin D.

Berangkat kerja saat langit masih gelap, seharian di ruangan ber-AC, lalu pulang ketika matahari sudah tenggelam. Akhir pekan pun lebih sering dihabiskan di mal atau di rumah. Lama-lama badan terasa gampang pegal, otot cepat lelah saat naik tangga, dan rasa capek tidak hilang meski sudah tidur cukup. Kita tinggal di negeri tropis yang mataharinya melimpah, jadi rasanya mustahil kekurangan sesuatu yang "gratis" dari langit. Benarkah begitu?

Di artikel Info Kesehatan kali ini, Tim Petos Sehat Estetika mengajak Anda mengenal vitamin D lewat pandangan dr. Henry Suhendra, Sp.OT(K), dokter spesialis ortopedi dan traumatologi sekaligus konsultan cedera olahraga yang juga menjabat Ketua Vitamin D Society Indonesia. Beliau alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga angkatan 1992, kini berpraktik di RS Siloam Mampang, Jakarta, dan aktif mengedukasi masyarakat soal vitamin D, termasuk lewat podcast Deddy Corbuzier, sejumlah webinar, dan akun Instagram terverifikasinya yang diikuti lebih dari 340 ribu orang. Kami lengkapi dengan data lembaga kesehatan dan pandangan Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) yang menjadi dasar pendekatan Petos Sehat.

Vitamin D lebih mirip hormon daripada vitamin

Menurut dr. Henry, seperti dikutip laman berita Universitas Airlangga (2021), vitamin D sebenarnya adalah "super hormon" yang berpengaruh pada seluruh sel, karena reseptornya ditemukan di hampir semua bagian tubuh. Berbeda dengan kebanyakan vitamin yang harus didapat dari makanan, vitamin D bisa dibuat sendiri oleh kulit saat terkena sinar UVB, lalu diolah tubuh menjadi bentuk aktif yang bekerja seperti hormon.

Beliau juga menyebut kadar vitamin D dalam tubuh tidak tetap. Menurut dr. Henry, stres dan kurang tidur dapat menurunkan kadarnya. Olahraga teratur bisa membantu menaikkan, tetapi olahraga berlebihan sampai kelelahan justru membuatnya turun. Beliau mengaitkan badan pegal dan flu yang dialaminya setelah bersepeda Jawa–Bali dengan anjloknya kadar vitamin D.

Peran vitamin D untuk tulang dan otot

Inilah bagian yang paling disepakati para ahli. Artikel Kementerian Kesehatan (2025) menjelaskan vitamin D meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfat di usus, menjaga kepadatan tulang, dan mencegah tubuh "mengambil" kalsium dari tulang saat kadar kalsium darah rendah. Kekurangan jangka panjang dapat menurunkan kepadatan tulang dan meningkatkan risiko patah tulang, terutama di panggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.

Otot pun ikut membutuhkannya. National Institutes of Health (NIH) Amerika Serikat menyebut otot memerlukan vitamin D untuk bergerak, dan Kemenkes mencatat vitamin D membantu fungsi otot sehingga dapat menurunkan risiko jatuh pada orang tua. Karena itu, keluhan otot terasa lemah, mudah pegal, dan cepat lelah sering membuat dokter ingin memeriksa kadar vitamin D, meski keluhan seperti ini juga bisa punya banyak penyebab lain.

Klaim besar yang masih diperdebatkan

dr. Henry dikenal dengan pernyataan yang berani. Dalam wawancara yang dikutip laman Universitas Airlangga (2021), beliau berpendapat manfaat vitamin D terhadap infeksi COVID-19 "hampir sama dengan vaksin", merujuk sebuah studi di Boston, dan menyebut penelitian di Amerika Serikat menunjukkan perbaikan pada penyakit jantung hingga 70 jenis kanker. Menurut beliau, manfaat itu hanya muncul bila kadar vitamin D benar-benar optimal, dan dalam webinar yang diberitakan Katadata (2021), beliau menyebut kadar optimal itu 100–140 ng/mL.

Pendapat ini tidak diterima semua kalangan. Dalam artikel Katadata yang sama, dokter ortopedi dr. Tony Setiobudi menilai hasil penelitian vitamin D dan COVID-19 masih campur aduk dan belum ada kesimpulan yang konklusif, serta lebih memercayai bukti uji klinis daripada pendapat ahli. NIH juga menyebut kadar di atas 50 ng/mL mungkin menimbulkan masalah kesehatan. Jadi, klaim-klaim besar tadi sebaiknya dipahami sebagai pendapat dr. Henry yang masih diperdebatkan penelitian lain, bukan kesimpulan final.

Meski begitu, ada satu pesan dr. Henry yang konsisten: periksa dulu sebelum minum suplemen. Menurut beliau, seperti diberitakan Katadata (2021), tes darah perlu dilakukan sebelum konsumsi suplemen, karena kemampuan penyerapan tiap orang berbeda dan cenderung menurun seiring usia. Pemeriksaan yang dipakai mengukur 25-hidroksivitamin D, dilaporkan dalam ng/mL atau nmol/L. Sebagai patokan umum, NIH menyebut kadar 20 ng/mL ke atas cukup untuk kebanyakan orang dan di bawah 12 ng/mL tergolong rendah. Perbedaan angka "optimal" ini menjadi alasan hasil laboratorium sebaiknya dibaca bersama dokter.

Sumber vitamin D dan pesan agar tidak minum suplemen sembarangan

Dalam webinar Gerakan #IndonesiaPastiBisa yang diberitakan Industry.co.id (2021), dr. Henry menyebut tiga sumber vitamin D: berjemur di bawah sinar matahari pagi, makanan tinggi vitamin D, dan suplemen. Makanan sumbernya antara lain ikan berlemak seperti salmon, makarel, dan sardin, kuning telur, hati sapi, serta produk susu yang diperkaya, menurut Kemenkes. Kemenkes menyebut paparan matahari sekitar 15–20 menit umumnya dianggap cukup, walau menurut dr. Henry di Katadata, berjemur saja biasanya tidak mampu menaikkan kadar dalam darah setinggi yang beliau anggap optimal.

Pesan beliau yang paling penting justru soal kehati-hatian. "Setiap orang memiliki kebutuhan dosis yang berbeda-beda," ujar dr. Henry, sehingga masyarakat diimbau tidak mengonsumsi vitamin D sembarangan dan berkonsultasi dulu ke dokter untuk mengetahui dosis yang sesuai. Soal bentuk tablet, kapsul, atau softgel, menurut beliau seperti dikutip Liputan6 (2021), perdebatan mana yang paling mudah diserap hanyalah "obsesi" selama produknya sudah terdaftar resmi. NIH mengingatkan kelebihan vitamin D hampir selalu berasal dari suplemen, bukan dari sinar matahari, dan dapat memicu mual, lemas, hingga batu ginjal.

Berjemur dalam kacamata TCM

Jauh sebelum vitamin D ditemukan, TCM sudah menganjurkan berjemur. Dokter TCM Wang Dongxu dari Rumah Sakit Integrasi TCM dan Barat Nanjing, dalam liputan China News (2024), menyebut berjemur, terutama menjemur punggung, dapat membantu "menopang yang qi", mengusir dingin dan lembap, serta melancarkan meridian, khususnya bagi orang yang tubuhnya mudah kedinginan. Beliau menyarankan menghindari terik, tidak berjemur saat perut kosong, dan mengingatkan bahwa orang dengan tipe tubuh "panas" tidak cocok berjemur lama. TCM juga mengenal prinsip "Ginjal menguasai tulang", yang dibahas peneliti China Academy of Chinese Medical Sciences di jurnal Frontiers of Medicine (2014). Ginjal dalam TCM adalah sistem fungsi yang berkaitan dengan tulang, sumsum, dan vitalitas, tidak sama dengan organ ginjal dalam anatomi modern.

Bila badan pegal dan otot terasa lemah

Vitamin D yang cukup membantu menjaga tulang dan otot, tetapi pegal dan kaku akibat duduk lama, kurang gerak, atau postur yang salah tetap perlu ditangani langsung. Terapis Petos Sehat Estetika dapat membantu meredakannya secara bertahap sesuai respons tubuh dengan Tuina, terapi pijat dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM), Akupresur pada titik-titik meridian, Pijat Limfatik untuk membantu tubuh terasa lebih ringan, serta Bone Setting untuk keluhan sendi dan postur. Petos Fresh memberi relaksasi dan peregangan seluruh badan termasuk teknik kretek khas Petos, Physical Problem Intensive berfokus pada satu area keluhan, dan Petos Sehat Komplit menangani dua area sekaligus serta paling disarankan untuk keluhan yang sudah lama. Untuk urusan kadar vitamin D dan suplemen, tetap konsultasikan dengan dokter.

Sebelum terapi, terapis mengecek kondisi Anda di lokasi, lalu menyesuaikan teknik dan tekanan dengan respons tubuh.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa itu vitamin D?
Vitamin D adalah zat yang dibuat kulit saat terkena sinar UVB dan juga didapat dari makanan serta suplemen. dr. Henry Suhendra menyebutnya "super hormon" karena reseptornya ada di hampir seluruh sel tubuh.

Apa manfaat vitamin D untuk tulang dan otot?
Vitamin D membantu penyerapan kalsium dan fosfat untuk menjaga kepadatan tulang, serta membantu fungsi otot sehingga menurunkan risiko jatuh pada orang tua, menurut Kemenkes dan NIH.

Berapa kadar vitamin D yang normal?
NIH menyebut kadar 25-hidroksivitamin D 20 ng/mL ke atas cukup untuk kebanyakan orang. dr. Henry berpendapat kadar optimal lebih tinggi, sehingga hasil laboratorium sebaiknya dibaca bersama dokter.

Apa saja sumber vitamin D?
Sinar matahari, ikan berlemak seperti salmon dan sardin, kuning telur, hati sapi, produk susu yang diperkaya, serta suplemen.

Bolehkah minum suplemen vitamin D tanpa resep?
dr. Henry Suhendra mengimbau tidak minum vitamin D sembarangan karena kebutuhan dosis tiap orang berbeda. Periksa kadar darah dan konsultasikan dosis dengan dokter.

Badan sering pegal dan otot terasa cepat lelah? Konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.

Konsep yang qi, meridian, dan Ginjal dalam artikel ini adalah teori Pengobatan Tradisional Tiongkok, bukan hasil uji klinis modern. Pandangan dr. Henry Suhendra dikutip dari pemberitaan media dan tidak berarti beliau terafiliasi dengan Petos Sehat. Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.