Bahaya Asap Karhutla bagi Kesehatan & Cara Melindungi Diri

Asap karhutla masih menyelimuti Sumatera dan Kalimantan. Simak bahaya PM2.5 bagi paru dan anak menurut penelitian, anjuran Kemenkes, dan cara melindungi diri.

Tim Petos Sehat

10/14/20267 min read

Jalan kota diselimuti kabut asap karhutla, matahari oranye pucat dan pengendara motor memakai masker
Jalan kota diselimuti kabut asap karhutla, matahari oranye pucat dan pengendara motor memakai masker

Ilustrasi: jalan kota yang diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan, dengan matahari oranye pucat dan pengendara motor yang memakai masker.

Matahari terlihat seperti bola oranye pucat, bau sangit masuk sampai ke kamar, dan jarak pandang di jalan tol tinggal beberapa ratus meter. Pemandangan ini kembali dialami jutaan warga Sumatera dan Kalimantan pada musim kemarau 2026. Banyak orang menganggap asap hanya mengganggu napas sesaat dan akan hilang bersama hujan. Tapi penelitian internasional menemukan jejaknya bisa tertinggal di tubuh jauh lebih lama, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian.

Di artikel ini, Tim Petos Sehat Estetika merangkum di mana asap karhutla masih bertahan saat ini, apa yang terjadi pada tubuh saat menghirupnya, apa kata penelitian dunia dan Kementerian Kesehatan, serta cara melindungi keluarga.

Di mana asap karhutla masih bertahan?

Hingga pertengahan Oktober 2026, kabut asap belum sepenuhnya pulih di sejumlah wilayah:

  • Sumatera Selatan. Satelit mendeteksi 1.324 titik panas pada 13 Oktober, terbanyak di Ogan Komering Ilir (729) dan Banyuasin (302). Kabut asap menutupi ruas tol Palembang–Lampung, seperti dilaporkan Suara.com.

  • Kalimantan. Data Kementerian Kehutanan per 13 Oktober malam mencatat titik panas masih muncul di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan, seperti dirangkum Liputan6.

  • Asap kiriman. Riau dan Sumatera Utara tidak memiliki titik panas, tetapi tetap diselimuti asap dari provinsi tetangga. Kualitas udara di Sumut berada di kategori sedang hingga tidak sehat, seperti diberitakan CNN Indonesia.

  • Hingga Papua dan negara tetangga. Asap juga menyebar ke Papua, dan Malaysia sempat meliburkan sekolah di beberapa negara bagian, seperti dilaporkan Katadata.

Artinya, walau jumlah titik api mulai turun, asapnya bisa bertahan dan berpindah jauh mengikuti arah angin.

Kenapa asap karhutla berbahaya?

Bahaya utama asap karhutla adalah partikel halus PM2.5, yaitu partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer, kira-kira 30 kali lebih kecil dari diameter rambut. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan partikel ini dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru, seperti tertulis dalam rilis Kemenkes (Agustus 2026).

Ada dua hal yang membuat asap karhutla di Indonesia lebih merepotkan:

  1. Lahan gambut terbakar lama. Menurut peneliti Harvard dan Columbia University, kebakaran di lahan gambut membara pada suhu rendah dan bisa bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sehingga menghasilkan asap dalam jumlah sangat besar.

  2. Lebih "galak" dari polusi biasa. Penelitian Aguilera dan rekan dari Scripps Institution of Oceanography, UC San Diego, di jurnal Nature Communications (2021) menganalisis data rawat inap selama 14 tahun. PM2.5 dari asap kebakaran hutan meningkatkan rawat inap karena gangguan pernapasan hingga 10 kali lebih besar dibanding PM2.5 dari sumber lain seperti kendaraan, seperti dilaporkan Scripps.

Apa yang terjadi pada tubuh saat menghirup asap?

Dalam jangka pendek, keluhan yang paling sering muncul antara lain:

  • Mata perih dan berair.

  • Tenggorokan gatal dan batuk.

  • Napas terasa pendek atau sesak.

  • Kepala pusing dan badan cepat lelah.

  • Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kemenkes mencatat 165.747 kasus ISPA di Kalimantan Barat sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, seperti tertulis dalam rilis Kemenkes.

Apa dampak jangka panjangnya menurut penelitian?

  1. Kematian dini. Penelitian Koplitz dan rekan dari Harvard University dan Columbia University di jurnal Environmental Research Letters (2016) memperkirakan asap kebakaran hutan Indonesia tahun 2015 berkaitan dengan lebih dari 100.000 kematian dini di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, seperti dilaporkan Harvard SEAS.

  2. Tinggi badan anak. Penelitian Tan-Soo dari National University of Singapore dan Pattanayak dari Duke University di jurnal PNAS (2019) menemukan anak yang terpapar asap karhutla 1997 saat masih dalam kandungan atau di enam bulan pertama kehidupannya rata-rata 3,3 cm lebih pendek pada usia 17 tahun, seperti dilaporkan Duke University.

Siapa yang paling rentan?

Kemenkes menyebut kelompok berikut perlu perlindungan ekstra:

  • Anak-anak dan balita.

  • Ibu hamil.

  • Lansia.

  • Orang dengan asma atau penyakit paru.

  • Pekerja lapangan yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Bagaimana cara melindungi diri dari asap karhutla?

  1. Pantau kualitas udara setiap hari lewat aplikasi resmi sebelum keluar rumah.

  2. Pakai masker N95 atau sejenisnya saat harus keluar, sesuai anjuran Kemenkes. Masker kain kurang mampu menyaring partikel PM2.5.

  3. Kurangi aktivitas di luar ruangan, termasuk olahraga pagi, saat asap sedang tebal.

  4. Tutup pintu dan jendela, lalu gunakan penyaring udara (air purifier) bila ada.

  5. Minum air putih yang cukup dan pakai pelindung mata saat berkendara.

  6. Datangi puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat bila batuk tidak kunjung reda, napas terasa berat, atau mata sangat perih, sesuai imbauan Kemenkes.

Tetap jaga tubuh selama banyak di dalam rumah

Saat asap tebal, banyak orang lebih lama duduk di dalam rumah. Napas yang pendek dan kurang gerak sering membuat pundak, leher, dan punggung terasa kaku, seperti dibahas di Kenali Tubuhmu #2: Otot Leher & Bahu. Lakukan peregangan ringan di dalam ruangan dan latihan napas perlahan. Bila badan terasa pegal, di Petos Sehat Estetika terapis mengecek kondisi Anda di lokasi lebih dulu, lalu menyesuaikan layanannya:

  • Petos Fresh untuk relaksasi dan stretching seluruh badan.

  • Physical Problem Intensive bila kaku berpusat di satu area, misalnya leher dan pundak.

  • Pijat Limfatik untuk membantu tubuh terasa lebih ringan saat badan terasa drop.

Baca juga: Bingung Pilih Layanan Petos Sehat? Ini Panduannya

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa bahaya asap karhutla bagi kesehatan?
Asap karhutla mengandung partikel PM2.5 yang bisa masuk hingga bagian terdalam paru-paru. Dalam jangka pendek dapat memicu mata perih, batuk, sesak napas, dan ISPA. Penelitian juga mengaitkan asap karhutla 2015 dengan lebih dari 100.000 kematian dini di Asia Tenggara serta gangguan pertumbuhan anak.

Di mana karhutla masih terjadi saat ini?
Per pertengahan Oktober 2026, titik panas masih terdeteksi terutama di Sumatera Selatan dan Kalimantan (Tengah, Barat, dan Selatan). Riau dan Sumatera Utara tidak memiliki titik panas, tetapi masih terkena asap kiriman.

Masker apa yang efektif untuk asap karhutla?
Kemenkes menganjurkan masker jenis N95. Masker kain kurang mampu menyaring partikel halus PM2.5.

Siapa yang paling berisiko terdampak asap?
Anak-anak, ibu hamil, lansia, orang dengan asma atau penyakit paru, serta pekerja lapangan.

Apakah boleh olahraga di luar saat ada asap?
Sebaiknya tidak. Saat berolahraga kita bernapas lebih cepat dan dalam, sehingga partikel asap yang terhirup lebih banyak. Pindahkan olahraga ke dalam ruangan.

Asap karhutla bukan sekadar gangguan sesaat, jadi lindungi diri dan keluarga selama kabut belum pulih. Bila tubuh terasa kaku dan pegal setelah lama di dalam rumah, konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.

Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.