Lutut Bunyi Krek Saat Jongkok, Bahaya? Kenali Tubuhmu #18

Lutut sering berbunyi krek saat jongkok atau naik tangga? Kenali lutut, asal bunyinya, kapan perlu ke dokter, dan pandangan TCM soal titik Yanglingquan.

Tim Petos Sehat

10/25/20269 min read

Perempuan berjongkok sambil memegang lutut yang berbunyi
Perempuan berjongkok sambil memegang lutut yang berbunyi

Ilustrasi: Perempuan berjongkok sambil memegang lututnya saat bangkit berdiri

Sore itu Rina berjongkok di lantai ruang tamu, membantu anaknya membereskan mainan yang berserakan. Saat ia bangkit, terdengar bunyi "krek" yang cukup keras dari lutut kanannya, sampai anaknya ikut menoleh dan tertawa. Besoknya di pasar, waktu berjongkok memilih cabai di lapak sayur, bunyi yang sama muncul lagi, kali ini dari kedua lutut. Tidak sakit, tidak bengkak, hanya bunyi. Tapi kata seorang teman di grup arisan, "Itu tandanya pelumas sendinya habis, hati-hati nanti pengapuran." Rina jadi bertanya-tanya: benarkah bunyi kecil itu sinyal bahaya, atau sekadar suara biasa dari tubuh yang bergerak?

Artikel ini bagian dari seri Kenali Tubuhmu #18 dari Tim Petos Sehat Estetika. Setelah membahas siku, kali ini kita turun ke lutut: sendi yang menopang hampir setiap langkah kita, dilihat dari Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) yang menjadi dasar pendekatan Petos Sehat, dan penelitian kedokteran modern sebagai pendukungnya.

Lutut: sendi terbesar dengan bantalan berlapis

Menurut Cleveland Clinic, lutut adalah sendi terbesar di tubuh manusia. Sendi ini mempertemukan tiga tulang: tulang paha (femur), tulang kering (tibia), dan tempurung lutut (patella). Ada dua sambungan di dalamnya, yaitu antara tulang paha dan tulang kering, serta antara tempurung lutut dan tulang paha. Tulang betis (fibula) yang berada di sisi luar tungkai bawah tidak dihitung sebagai tulang lutut, tetapi menjadi tempat menempelnya salah satu ligamen penyangga sisi luar lutut.

Agar tulang-tulang itu tidak saling bergesekan kasar, ujung-ujungnya dilapisi tulang rawan sendi (kartilago artikular) yang licin, kuat, dan lentur. Laman Arthritis-Health menjelaskan, lapisan inilah yang membuat tulang bisa meluncur mulus saat lutut ditekuk dan diluruskan, sekaligus meredam benturan ketika kita berjalan. Di antara tulang paha dan tulang kering masih ada dua bantalan tulang rawan berbentuk seperti irisan bulan sabit, yaitu meniskus sisi dalam dan meniskus sisi luar. Keduanya menyerap guncangan dan membantu lutut tetap stabil.

Seluruh sendi dibungkus selaput tipis bernama membran sinovial yang menghasilkan cairan sinovial, cairan kental yang berfungsi sebagai pelumas sekaligus membawa nutrisi bagi tulang rawan. Menariknya, menurut Arthritis-Health, saat lutut diam cairan ini tersimpan di dalam tulang rawan seperti air dalam spons, lalu diperas keluar ketika lutut ditekuk dan menahan beban. Itulah sebabnya bergerak secara teratur justru membantu menjaga sendi tetap sehat.

Di bagian depan paha ada otot paha depan (quadriceps) yang meluruskan tungkai lewat tendon tempurung lutut, tendon terbesar di lutut yang menghubungkan tempurung lutut dengan bagian depan tulang kering. Di bagian belakang, otot paha belakang (hamstring) bekerja saat lutut ditekuk. Empat ligamen utama, dua di sisi kiri-kanan dan dua yang bersilang membentuk huruf X di dalam sendi, menjaga lutut tidak goyah ke samping maupun ke depan dan belakang.

Dari mana datangnya bunyi "krek"?

Dalam istilah kedokteran, bunyi letupan, gemeretak, atau gesekan dari sendi disebut crepitus (krepitus). Artikel fisioterapis di Hinge Health merangkum tiga sumber utamanya. Yang pertama adalah gas. Perubahan tekanan di dalam sendi dapat membentuk gelembung gas kecil di cairan sinovial, mirip yang terjadi saat seseorang meletupkan buku-buku jarinya.

Mekanisme gas ini sempat lama diperdebatkan. Penelitian Kawchuk dkk. di PLoS ONE (2015) merekam sendi buku jari dengan MRI secara langsung saat jari ditarik sampai berbunyi. Hasilnya, bunyi muncul bersamaan dengan terbentuknya rongga gas secara cepat ketika permukaan sendi saling menjauh, dan rongga itu masih terlihat sesudahnya. Studi ini meneliti 10 sendi buku jari, bukan lutut, tetapi memberi gambaran bagaimana sebuah sendi bisa berbunyi tanpa ada kerusakan apa pun.

Sumber kedua adalah tendon dan ligamen. Menurut Hinge Health, jaringan seperti tali ini dapat "menjepret" melewati tonjolan tulang saat lutut bergerak, sehingga menimbulkan bunyi klik.

Sumber ketiga berkaitan dengan tulang rawan. Laman ortopedi Aurora Health Care menyebut krepitus yang disertai nyeri dapat berasal dari pengapuran sendi (osteoartritis), ketika tulang rawan menipis sehingga permukaan tulang tidak lagi meluncur mulus. Penyebab lain adalah sindrom nyeri patelofemoral atau runner's knee di area tempurung lutut, yang sering dipicu peningkatan aktivitas mendadak seperti lari, jongkok, atau melompat dan lebih sering dialami perempuan, serta robekan tulang rawan akibat cedera olahraga, jatuh, atau kecelakaan. Hinge Health menambahkan robekan meniskus, yang biasanya disertai bengkak dan kaku.

Seberapa umum lutut berbunyi?

Tinjauan sistematis dan meta-analisis Couch dkk. di British Journal of Sports Medicine (2024) mengumpulkan 103 penelitian dengan 36.439 peserta dan 42.816 lutut. Hasilnya, krepitus lutut ditemukan pada 41% populasi umum dan 36% orang tanpa cedera maupun nyeri lutut. Pada penderita pengapuran lutut, angkanya naik menjadi 81%.

Peneliti juga menemukan krepitus berkaitan dengan peluang lebih dari tiga kali lipat untuk menemukan tanda pengapuran pada foto rontgen, serta beberapa perubahan struktur sendi pada MRI. Namun penulisnya menekankan dua hal: tingkat kepastian buktinya masih rendah hingga sangat rendah, dan karena bunyi lutut begitu umum, krepitus mungkin bukan alasan langsung untuk khawatir. Mereka menyarankan agar orang yang lututnya berbunyi diberi penjelasan yang menenangkan, bukan ditakut-takuti.

Apakah lutut berbunyi tanda akan pengapuran?

Pertanyaan ini pernah diteliti secara khusus oleh tim yang dipimpin dr. Grace Lo dari Baylor College of Medicine, dengan memakai data Osteoarthritis Initiative di Amerika Serikat. Menurut laporan Consultant360 tentang studi yang terbit di jurnal Arthritis Care & Research ini, peneliti mengikuti 3.495 orang yang awalnya tidak memiliki keluhan pengapuran lutut, dengan rata-rata usia 61,1 tahun. Peserta diminta menilai seberapa sering lututnya berbunyi, dari jarang sampai selalu.

Hasilnya, makin sering lutut berbunyi, makin besar peluang munculnya pengapuran lutut yang bergejala. Dibandingkan yang tidak pernah, peluangnya sekitar 1,5 kali pada kelompok "jarang", 1,8 kali pada "kadang-kadang", 2,2 kali pada "sering", dan 3 kali pada "selalu". Tetapi ada catatan penting: lebih dari 75% kasus baru justru berasal dari kelompok yang sejak awal sudah menunjukkan tanda pengapuran pada foto rontgen, walaupun belum terasa nyeri. Jadi bunyi lutut lebih tepat dipandang sebagai salah satu petunjuk, bukan penyebab.

Kesimpulannya cukup menenangkan. Bunyi lutut tanpa nyeri sangat umum dan sebagian besar normal. Yang perlu diperhatikan adalah apakah bunyi itu datang bersama keluhan lain, terutama pada orang tua atau mereka yang lututnya mulai sering terasa kaku dan nyeri.

Kapan bunyi lutut perlu diperiksakan?

Panduan NHS (layanan kesehatan Inggris) menyatakannya dengan lugas: bunyi klik tanpa nyeri adalah hal yang normal. Untuk nyeri lutut ringan, NHS menyarankan mengurangi beban pada lutut, misalnya tidak berdiri terlalu lama, dan mengompres dengan es yang dibungkus kain hingga 20 menit setiap 2 sampai 3 jam. Keluhan biasanya mulai membaik dalam beberapa hari. Bila nyeri tidak membaik dalam beberapa minggu, sebaiknya periksakan ke dokter.

Ada juga tanda yang perlu segera mendapat pertolongan dokter. Menurut NHS, tanda tersebut adalah lutut yang sangat nyeri, lutut yang tidak bisa digerakkan atau tidak sanggup menahan beban, lutut yang bengkak hebat atau berubah bentuk, lutut yang terkunci, tiba-tiba "lepas" atau goyah, maupun berbunyi klik disertai nyeri, serta demam atau badan menggigil disertai kemerahan dan rasa panas di sekitar lutut, yang bisa menandakan infeksi. Hinge Health menambahkan kelemahan tungkai yang makin bertambah dan bunyi letupan yang muncul setelah jatuh atau benturan. Untuk kondisi seperti ini, jangan menunggu dan jangan memijat sendiri area yang bengkak; temui dokter lebih dulu.

Jongkok, berat badan, dan kebiasaan harian

Di Indonesia, jongkok adalah posisi sehari-hari: memilih sayur di pasar, mencuci, berkebun, sampai mengobrol di teras. Posisi ini sendiri tidak berbahaya, tetapi durasinya patut diperhatikan. Studi retrospektif di Beijing yang dimuat Chinese Journal of Epidemiology (2007) meneliti warga berusia 60 tahun ke atas dan menanyakan berapa lama mereka biasa berjongkok setiap hari saat berusia sekitar 25 tahun.

Menurut ringkasan studi tersebut, dibandingkan yang berjongkok kurang dari 30 menit sehari, mereka yang dahulu berjongkok 3 jam atau lebih per hari memiliki peluang pengapuran sendi antara tulang paha dan tulang kering sekitar 2 kali (laki-laki) dan 2,4 kali (perempuan). Penulisnya menyimpulkan jongkok berkepanjangan sebagai faktor risiko, meski kecenderungan bertingkatnya belum mencapai batas kemaknaan statistik. Pesannya sederhana: jongkok sebentar tidak masalah, tetapi bila lutut mulai nyeri, kurangi jongkok lama dan dalam, pakai bangku kecil, dan selingi dengan berdiri.

Berat badan juga penting. Penelitian Stephen Messier dari Wake Forest University terhadap 142 orang dewasa yang lebih tua dengan berat badan berlebih dan pengapuran lutut, dimuat di jurnal Arthritis & Rheumatism (2005), menemukan bahwa setiap penurunan berat badan mengurangi tekanan pada lutut sebesar empat kali lipatnya. Menurut Wake Forest University, rata-rata penurunan berat badan peserta dalam program 18 bulan itu hanya 2%, namun dampaknya terhadap lutut sudah terasa.

Yang tidak kalah penting adalah menguatkan otot paha. Panduan latihan dari Royal Orthopaedic Hospital NHS untuk lutut dengan pengapuran dimulai dengan pemanasan jalan santai 3 sampai 4 menit. Latihannya antara lain duduk-berdiri dari kursi tanpa bantuan tangan, menegangkan otot paha depan dengan gulungan handuk kecil di bawah lutut lalu menahan 5 sampai 10 detik, dan squat kecil sambil memegang sandaran kursi dengan tekukan lutut tidak lebih dari 45 derajat. Masing-masing dilakukan 10 kali, pilih 3 sampai 4 latihan setiap sesi, idealnya tiga kali sehari dengan gerakan pelan. Renang dan bersepeda juga disarankan karena melatih gerak dan kebugaran tanpa beban berlebih pada sendi. Bila latihan menimbulkan nyeri, beri jeda sampai reda, dan konsultasikan dengan dokter atau fisioterapis bila ragu.

Lutut dalam pandangan TCM

TCM punya ungkapan klasik tentang lutut: 膝为筋之府, "lutut adalah rumah bagi otot dan urat". Dalam materi program kesehatan RTHK Radio 5 Hong Kong yang dibawakan Prof. Chung Kiu-lam dari School of Chinese Medicine, The Chinese University of Hong Kong, ungkapan ini dikutip dari kitab Zhang Shi Yi Tong karya tabib dinasti Qing, Zhang Lu, lengkap dengan lanjutannya: hampir semua nyeri lutut berakar dari lemahnya Hati dan Ginjal. Lutut disebut "rumah" karena di sanalah banyak jaringan urat, yakni tendon dan ligamen, berkumpul dan menjaga kestabilan sendi.

Dua konsep lain melengkapinya. Hati menguasai urat (肝主筋): darah Hati yang cukup menutrisi urat sehingga tetap kuat dan lentur. Ginjal menguasai tulang (肾主骨): esensi Ginjal yang cukup menjaga tulang tetap padat dan kokoh. Bila keduanya melemah, menurut materi RTHK tersebut, lutut lebih mudah dimasuki angin, dingin, dan lembap yang dalam TCM dianggap memicu kaku dan nyeri sendi. Materi yang sama mengingatkan bahwa keluhan lutut perlu dilihat bersama pinggul dan pergelangan kaki, karena kestabilan lutut bergantung pada keseimbangan otot paha depan, paha belakang, dan otot-otot di sisi paha. Perlu diingat, Hati dan Ginjal dalam TCM adalah sistem fungsi, tidak sama dengan organ hati dan ginjal dalam anatomi modern.

Titik yang paling ditonjolkan dalam materi RTHK adalah Yanglingquan (GB34) pada meridian Kandung Empedu, yang dijuluki "titik pertemuan urat". Letaknya di cekungan depan bawah kepala tulang betis, tonjolan kecil di sisi luar tungkai tepat di bawah lutut. Titik ini dapat ditekan hingga terasa sedikit pegal selama 3 sampai 5 menit, beberapa kali sehari. Di depan lutut ada sepasang "mata lutut" (Xiyan), cekungan di kiri dan kanan tendon di bawah tempurung lutut saat lutut ditekuk. Cekungan sisi luar disebut Dubi (ST35) pada meridian Lambung, sedangkan sisi dalam disebut Neixiyan. Praktisi TCM Taiwan, Wu Jianxun, dalam artikel TVBS Health (2024) menyarankan menekan titik ini dengan ibu jari selama 30 detik, minimal 5 kali, di kedua lutut. Dokter akupunktur China-Japan Friendship Hospital, Liu Naigang, dalam artikel EDH (2024) mengingatkan agar tekanannya tidak terlalu keras.

Sedikit lebih ke bawah ada Zusanli (ST36), yang menurut tabel titik dalam protokol penelitian di jurnal Trials terletak 3 cun (ukuran jari dalam TCM) di bawah Dubi, selebar satu jari di sisi luar tepi depan tulang kering. Analisis data Zhang dkk. di Journal of Pain Research (2026) terhadap 522 penelitian akupunktur untuk pengapuran lutut menemukan Dubi sebagai titik yang paling sering dipakai (12,22% dari seluruh pemakaian titik), disusul Neixiyan (12,04%) dan Yanglingquan (9,86%), dengan Zusanli termasuk titik inti. Penulisnya sendiri mengingatkan bahwa seringnya sebuah titik dipakai tidak otomatis berarti paling efektif, dan temuan mekanismenya masih perlu dibuktikan lewat penelitian lanjutan.

Bila lutut terasa kaku dan paha tegang

Lutut yang terasa kaku sering tidak berdiri sendiri. Otot paha depan dan belakang, betis, pinggul, hingga punggung bawah ikut tegang karena duduk lama, banyak jongkok, atau olahraga tanpa pemanasan. Terapis Petos Sehat Estetika membantu meredakannya dengan Tuina, terapi pijat dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) yang mengendurkan otot di sepanjang jalur meridian tungkai, Akupresur pada titik seperti Yanglingquan, Dubi, dan Zusanli, Manual Therapy untuk melemaskan jaringan lunak di sekitar lutut dan pinggul, serta Bone Setting untuk membantu keselarasan postur bila sesuai dengan kondisi Anda. Petos Fresh memberi relaksasi dan peregangan seluruh badan termasuk teknik kretek khas Petos, Physical Problem Intensive berfokus pada satu area keluhan, dan Petos Sehat Komplit menangani dua area sekaligus serta paling disarankan untuk keluhan yang sudah lama. Tekanan di sekitar lutut disesuaikan bertahap, dan area yang bengkak, merah, atau panas tidak dipijat.

Sebelum terapi, terapis mengecek kondisi Anda di lokasi, lalu menyesuaikan teknik dan tekanan dengan respons tubuh.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah lutut berbunyi saat jongkok itu normal?
Umumnya normal. Meta-analisis tahun 2024 menemukan krepitus lutut pada 41% populasi umum dan 36% orang tanpa nyeri lutut. NHS menyebut bunyi klik tanpa nyeri adalah hal yang normal.

Apa penyebab lutut berbunyi "krek"?
Penyebab tersering adalah gelembung gas di cairan sendi, tendon atau ligamen yang menjepret melewati tonjolan tulang, dan perubahan permukaan tulang rawan.

Apakah lutut berbunyi tanda pengapuran?
Tidak selalu. Studi Osteoarthritis Initiative menemukan lutut yang selalu berbunyi memiliki peluang sekitar 3 kali lebih besar untuk mengalami pengapuran bergejala, tetapi ini hubungan, bukan sebab, dan sebagian besar kasus sudah memiliki tanda pengapuran sejak awal.

Kapan lutut berbunyi perlu diperiksakan ke dokter?
Bila disertai nyeri, bengkak, lutut terkunci atau tiba-tiba goyah, tidak bisa menahan beban, atau muncul demam dengan kemerahan dan rasa panas di lutut.

Di mana letak titik Yanglingquan (GB34)?
Di cekungan depan bawah kepala tulang betis, tonjolan kecil di sisi luar tungkai tepat di bawah lutut, pada meridian Kandung Empedu dalam teori TCM.

Lutut sering kaku atau paha terasa tegang setelah banyak jongkok dan berdiri? Konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.

Konsep meridian, urat, titik akupresur, Hati, dan Ginjal dalam artikel ini adalah teori Pengobatan Tradisional Tiongkok, bukan hasil uji klinis modern. Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis. Bila lutut nyeri hebat, bengkak, terkunci, goyah, atau disertai demam, segera periksakan ke dokter.