Pijat Makin Sakit, Makin Manjur? Mitos atau Fakta #14

Benarkah pijat harus sakit supaya terasa hasilnya? Simak kata penelitian soal tekanan pijat, pandangan Tuina TCM, dan cara membedakan pegal wajar dari nyeri.

Tim Petos Sehat

10/26/20269 min read

Perempuan berbaring rileks saat punggung dan bahunya dipijat dengan tekanan yang pas
Perempuan berbaring rileks saat punggung dan bahunya dipijat dengan tekanan yang pas

Ilustrasi: Tekanan pijat yang pas terasa dalam, tetapi tetap membuat badan rileks

Sore itu Dimas berbaring tengkurap, punggungnya terasa seperti papan setelah seminggu lembur. Begitu tangan terapis menekan bahunya, ia meringis. Tekanannya terasa berat, tetapi Dimas menahan diri untuk tidak protes. Dalam hatinya ia berpikir, "Kalau sakit begini, berarti ototnya memang parah, dan pijatnya sedang bekerja." Teman kantornya juga selalu bilang, pijat yang enak itu pijat yang bikin meringis. Tapi benarkah pijat makin sakit, makin manjur? Atau justru ada yang luput dari anggapan itu?

Selamat datang di Mitos atau Fakta #14 dari Tim Petos Sehat Estetika. Setelah membahas HP yang katanya lebih kotor dari toilet di seri sebelumnya, kali ini kita menguji anggapan yang sangat akrab di telinga orang Indonesia: pijat harus sakit supaya terasa hasilnya. Kita melihatnya dari dua sisi, Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM) yang menjadi dasar pendekatan Petos Sehat, dan penelitian modern sebagai pendukungnya.

Dari mana anggapan "pijat harus sakit" berasal?

Anggapan ini lahir dari pengalaman yang nyata, lalu ditarik terlalu jauh. Saat otot yang tegang ditekan, kita memang sering merasakan pegal yang menusuk, dan setelahnya badan terasa lebih ringan. Dari situ muncul kesimpulan sederhana: rasa sakit itu tanda pijatnya "masuk", dan kalau tidak sakit berarti terapisnya kurang bertenaga.

Ada beberapa hal yang memperkuat anggapan ini:

  • Ungkapan "tidak ada hasil tanpa rasa sakit". Pola pikir dari dunia olahraga ini ikut terbawa ke dunia pijat.

  • Pegal setelah pijat dianggap bukti. Badan yang terasa nyeri keesokan harinya sering ditafsirkan sebagai tanda "anginnya sudah keluar" atau "uratnya sudah lurus".

  • Memar dianggap prestasi. Ada yang merasa pijat belum tuntas kalau kulit belum kebiruan.

  • Salah tafsir ungkapan TCM. Prinsip klasik "tong ze bu tong" sering dipahami keliru sebagai "harus sakit dulu supaya lancar". Ini akan kita bahas di bagian TCM.

Apa kata penelitian soal kerasnya tekanan pijat?

Penelitian menunjukkan tekanan yang efektif adalah tekanan sedang, cukup dalam untuk terasa di otot, tetapi tidak sampai menyakitkan. Tekanan yang terlalu ringan kurang memberi efek, sedangkan tekanan yang terlalu keras justru membawa risiko.

Bukti paling sering dikutip datang dari Touch Research Institute, University of Miami. Dalam uji Diego dan rekan di International Journal of Neuroscience (2004), 36 orang dewasa sehat dibagi menjadi tiga kelompok: pijat tekanan sedang, pijat tekanan ringan, dan alat getar. Kecemasan turun di semua kelompok, tetapi penurunan stres terbesar terjadi pada kelompok tekanan sedang. Detak jantung mereka melambat dan pola gelombang otaknya bergeser ke arah rileks. Sebaliknya, tekanan ringan justru menaikkan detak jantung dan memberi pola yang lebih "waspada".

Tinjauan Field, Diego, dan Hernandez-Reif di jurnal yang sama, International Journal of Neuroscience (2010), menyimpulkan bahwa tekanan sedang tampaknya diperlukan agar pijat memberi efek. Penurunan stres pada orang dewasa hanya terlihat pada tekanan sedang, bukan tekanan ringan. Para peneliti menduga tekanan yang cukup merangsang reseptor tekanan di bawah kulit, lalu meningkatkan aktivitas saraf vagus, bagian sistem saraf yang membuat tubuh lebih tenang. Tinjauan Field berikutnya di Complementary Therapies in Clinical Practice (2014) juga mengaitkan pijat tekanan sedang dengan berkurangnya rasa nyeri dan turunnya hormon stres kortisol.

Bagaimana dengan keluhan pinggang? Uji acak Chen dan rekan di International Journal of Environmental Research and Public Health (2022) melibatkan 56 perempuan dengan nyeri pinggang bawah. Terapis memakai alat bersensor gaya untuk mengatur tekanan. Kelompok yang dipijat dengan tekanan lebih mantap (sekitar 2 kg atau lebih, umumnya 2 sampai 6 kg) mengalami penurunan nyeri sekitar 1,3 poin lebih besar pada skala 0 sampai 10 di akhir terapi dibanding kelompok tekanan ringan (sekitar 1 kg atau kurang). Namun pada pemeriksaan lanjutan di minggu kedelapan, perbedaan itu tidak lagi bermakna. Artinya, tekanan yang cukup mantap memang membantu, tetapi "cukup mantap" di sini adalah tekanan yang terukur, bukan tekanan sekuat tenaga.

Apa risikonya kalau pijat terlalu keras?

Tekanan yang berlebihan bisa menimbulkan memar, cedera jaringan lunak, dan, sangat jarang, kerusakan otot yang serius. Kebanyakan risiko ini kecil, tetapi bukan nol.

Memar dan cedera jaringan lunak. Tinjauan sistematis Yin dan rekan di Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine (2014) mengumpulkan 40 laporan berisi 138 kejadian tidak diinginkan terkait pijat selama 2003 sampai 2013. Komplikasi yang tercatat antara lain cedera jaringan lunak, saraf terjepit, hingga cedera tulang belakang, dan sebagian kasus serius berkaitan dengan manipulasi tulang belakang yang dilakukan dengan keliru. Penulisnya menyimpulkan pijat "tidak sepenuhnya bebas risiko", meski angka kejadiannya rendah.

Rabdomiolisis, kasus langka. Rabdomiolisis adalah kondisi saat sel otot rusak dan isinya masuk ke aliran darah, sehingga dapat membebani ginjal. Laporan kasus Dickey dan rekan di Proceedings (Baylor University Medical Center) (2021) menceritakan pria 39 tahun yang menjalani pijat jaringan dalam selama 2 jam saat sedang terinfeksi influenza. Kadar enzim otot (CK) di darahnya melonjak di atas 426.700 U/L, jauh di atas batas normal, dan ia dirawat 16 hari sebelum pulih. Para penulis menyebutnya kasus yang unik dan mengajukan dugaan bahwa pijat keras memperberat kerusakan otot akibat flu. Jadi ini bukan kejadian umum, tetapi menjadi pengingat bahwa pijat sangat keras saat tubuh sedang sakit bukan ide baik.

Otot malah ikut "melawan". Saat terasa sakit, tubuh secara refleks melindungi diri. Penelitian gerak yang dirangkum Bertrand-Charette dan rekan di Frontiers in Human Neuroscience (2021), merujuk teori Hodges dan Tucker di jurnal Pain (2011), menjelaskan bahwa rasa nyeri dapat mengubah kekakuan dan cara otot direkrut sebagai strategi perlindungan. Dalam keseharian, inilah yang terjadi ketika kita meringis di meja pijat: bahu menegang, napas tertahan, dan otot yang seharusnya melemas justru mengunci. Tekanan yang membuat Anda menahan napas sering kali bekerja melawan tujuan pijat itu sendiri.

Pakar di Tiongkok mengingatkan hal serupa. Dalam laporan Xinhua (2025), Dun Wanghuan dari Departemen Rehabilitasi First Affiliated Hospital of Xi'an Jiaotong University menyebut tekanan pijat harus disesuaikan dengan tiap orang, dan tenaga yang berlebihan dapat melukai otot dan ligamen. Orang dengan pembuluh darah rapuh, misalnya penderita gula darah atau tekanan darah tinggi, juga lebih mudah mengalami perdarahan di bawah kulit bila dipijat terlalu keras.

Bagaimana TCM memandang kuatnya tekanan dalam Tuina?

Dalam Tuina, terapi pijat dalam Pengobatan Tradisional Tiongkok, tekanan bukan soal "sekuat mungkin", melainkan "setepat mungkin". Kekuatan, arah, titik sentuh, dan kedalaman disesuaikan dengan area tubuh dan kondisi orangnya. Jiang Yangyang, dokter di Departemen Tuina Beijing Traditional Chinese Medicine Hospital Shunyi, seperti dikutip Technology Daily via China Daily (2023), menggambarkan Tuina yang baik sebagai "柔中有刚,刚中有柔": ada ketegasan di dalam kelembutan, dan ada kelembutan di dalam ketegasan. Artikel yang sama menegaskan bahwa pijat semestinya tidak menimbulkan rasa sakit, dan tenaga berlebihan justru dapat memicu perlengketan fasia.

TCM juga membedakan kondisi tubuh. Menurut praktisi TCM Hsu Chun-chang yang dikutip TVBS Health (2023), kondisi yang bersifat "kurang" (xu, 虚) ditangani dengan teknik ringan yang menguatkan (bu, 补), sedangkan kondisi yang bersifat "berlebih" (shi, 实) boleh dengan teknik lebih berat (xie, 泻). Jadi orang yang lelah, lemah, atau baru sakit justru tidak cocok dipijat keras, meski keluhannya sama-sama pegal.

Lalu, bagaimana dengan "tong ze bu tong"? Ungkapan klasik "不通则痛,通则不痛" berarti "bila tersumbat timbul nyeri, bila lancar tidak nyeri". Ungkapan ini menjelaskan penyebab keluhan, yaitu aliran qi dan darah yang tersendat di jalur meridian, sebagaimana dijelaskan Hsu dengan perumpamaan jalan tol yang macet. Ungkapan ini tidak berarti terapi harus menyakitkan. Tujuannya membuat aliran kembali lancar sehingga nyeri berkurang, bukan menambah nyeri baru. Karena itu prinsip ini perlu dipakai hati-hati: "melancarkan" dengan tekanan yang tepat, bukan "menjebol" dengan tenaga.

De qi: pegal-berat yang wajar. Dalam TCM dikenal sensasi de qi (得气), yaitu rasa pegal, linu, berat, penuh, atau kesemutan saat titik yang tepat dirangsang. Studi Hui dan rekan di BMC Complementary and Alternative Medicine (2007) terhadap 42 orang dewasa sehat dengan akupunktur menemukan rasa pegal, linu, dan tertekan sebagai sensasi yang paling sering muncul. Rasa nyeri tajam yang sesekali muncul justru digolongkan sebagai rangsangan berlebih yang tidak disengaja, bukan bagian dari de qi. Prinsip ini juga berlaku pada Tuina dan Akupresur: rasa pegal-berat yang menyebar adalah tanda titiknya tepat, sedangkan nyeri tajam adalah tanda tekanan perlu dikurangi.

Jadi, mitos atau fakta?

Sebagian besar mitos. Pijat memang perlu tekanan yang cukup, karena tekanan sedang terbukti lebih efektif daripada sentuhan yang terlalu ringan, dan rasa pegal-berat saat titik yang tepat ditekan adalah hal wajar. Namun semakin sakit tidak berarti semakin manjur. Nyeri tajam membuat otot menegang untuk melindungi diri, meningkatkan risiko memar dan cedera, dan pada kasus yang sangat jarang dapat memperberat kerusakan otot.

Patokan yang lebih tepat adalah "pegal tapi enak": terasa dalam, masih bisa bernapas lega, dan badan makin rileks seiring pijatan berjalan.

Pegal yang wajar vs nyeri yang perlu diwaspadai

Rasa yang wajar selama dan setelah pijat:

  • Pegal, linu, atau berat yang terasa "enak", seperti otot sedang diregangkan.

  • Rasa hangat atau menyebar di sekitar titik yang ditekan.

  • Napas tetap teratur dan badan makin rileks.

  • Sedikit pegal keesokan harinya. Menurut terapis pijat Victoria Bodner di Cleveland Clinic (2024), rasa pegal ini umum, terutama bila sudah lama tidak dipijat, dan biasanya hilang dalam beberapa jam hingga sekitar satu setengah hari.

Rasa yang menandakan tekanan perlu dikurangi atau pijat dihentikan:

  • Nyeri tajam, menusuk, atau seperti tersengat listrik.

  • Anda refleks menahan napas, mengepalkan tangan, atau menegangkan badan.

  • Kesemutan atau rasa baal yang menjalar dan tidak segera hilang.

  • Pusing, mual, berdebar, sesak, atau dada terasa tidak nyaman. Dokter yang dikutip Technology Daily di atas menyarankan pijat segera dihentikan dan mencari pertolongan bila gejala ini muncul.

Segera periksakan diri ke dokter bila setelah pijat muncul nyeri otot yang jauh lebih berat dari dugaan, air seni berwarna gelap seperti teh atau cola, atau badan sangat lemas. Menurut CDC, ketiganya adalah tanda rabdomiolisis yang bisa muncul beberapa jam hingga beberapa hari kemudian. Periksakan juga bila pegal tidak berkurang setelah dua hari, atau muncul memar besar dan bengkak.

Tips berkomunikasi dengan terapis

Terapis tidak bisa merasakan apa yang Anda rasakan, jadi komunikasi adalah kunci pijat yang aman dan nyaman. Bodner dari Cleveland Clinic bahkan menyebut komunikasi sebagai cara terbaik mencegah pegal berlebihan setelah pijat.

  1. Ceritakan kondisi sebelum mulai. Sampaikan riwayat cedera, operasi, tekanan darah, gula darah, kehamilan, obat pengencer darah, atau bila Anda sedang demam dan flu.

  2. Pakai skala 1 sampai 10. Minta tekanan di kisaran 5 sampai 7: terasa dalam, tetapi tidak sampai meringis. Bilang angkanya bila berubah.

  3. Gunakan kata yang jelas. "Kurangi sedikit", "di situ pas", atau "ini nyeri tajam" lebih membantu daripada diam menahan.

  4. Jangan malu meminta lebih ringan. Pijat bukan uji ketahanan. Tekanan yang membuat Anda rileks justru lebih mudah bekerja.

  5. Kabari bila ada rasa aneh. Kesemutan menjalar, pusing, atau mual perlu segera disampaikan.

  6. Ceritakan hasil sesi sebelumnya. Bila dulu sempat memar atau pegal berhari-hari, terapis bisa menyesuaikan tekanan.

Tips setelah pijat di rumah

  • Minum air putih secukupnya dan istirahat yang cukup di malam harinya.

  • Gerakkan badan dengan ringan, misalnya jalan santai atau peregangan lembut, agar otot tidak kaku kembali.

  • Kompres hangat pada area yang terasa pegal bila membuat nyaman.

  • Hindari olahraga berat di hari yang sama bila badan masih terasa pegal.

Baca juga: DOMS, nyeri otot setelah olahraga untuk memahami beda pegal karena otot bekerja dan nyeri karena cedera.

Layanan yang sesuai di Petos Sehat Estetika

Di Petos Sehat Estetika, terapis mengecek kondisi Anda di lokasi lebih dulu, lalu menyesuaikan teknik dan tekanan dengan respons tubuh, bukan dengan tenaga maksimal. Anda selalu bisa meminta tekanan ditambah atau dikurangi kapan saja.

  • Petos Fresh: relaksasi dan stretching seluruh badan, termasuk teknik kretek, cocok untuk pegal karena lelah.

  • Physical Problem Intensive: fokus pada satu area keluhan, misalnya leher-bahu atau pinggang, dengan Tuina, Akupresur, dan Bone Setting sesuai kebutuhan.

  • Petos Sehat Komplit: menangani dua area sekaligus, paling disarankan untuk keluhan menahun.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah pijat yang makin sakit makin manjur?
Sebagian besar mitos. Penelitian menunjukkan tekanan sedang, terasa dalam tetapi tidak menyakitkan, lebih efektif menurunkan stres dan nyeri dibanding tekanan ringan. Nyeri tajam justru membuat otot menegang dan meningkatkan risiko memar atau cedera.

Rasa pegal saat dipijat itu normal atau tidak?
Normal, selama terasa pegal-berat yang "enak" dan napas tetap lega. Dalam TCM, rasa ini mirip sensasi de qi saat titik yang tepat dirangsang. Nyeri tajam, menusuk, atau seperti tersengat adalah tanda tekanan perlu dikurangi.

Berapa lama pegal setelah pijat itu wajar?
Biasanya beberapa jam hingga sekitar satu setengah hari. Bila pegal makin berat setelah dua hari, muncul memar besar, atau air seni gelap seperti teh, segera periksakan ke dokter.

Apa arti "tong ze bu tong" dalam TCM?
Artinya "bila lancar tidak nyeri". Ungkapan ini menjelaskan bahwa nyeri timbul karena aliran qi dan darah tersendat, bukan bahwa terapi harus menyakitkan. Tuina bertujuan melancarkan aliran dengan tekanan yang tepat.

Bagaimana cara meminta tekanan yang pas ke terapis?
Ceritakan kondisi Anda sebelum mulai, gunakan skala 1 sampai 10 dan minta di kisaran 5 sampai 7, lalu katakan dengan jelas bila tekanan perlu dikurangi atau terasa nyeri tajam.

Badan pegal dan ingin dipijat dengan tekanan yang pas, bukan yang menyiksa? Konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.

Konsep qi, meridian, xu-shi, dan de qi dalam artikel ini adalah teori Pengobatan Tradisional Tiongkok, bukan hasil uji klinis modern. Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis. Bila Anda memiliki osteoporosis, gangguan pembekuan darah, sedang hamil, atau sedang sakit, konsultasikan dengan dokter sebelum dipijat.