Kop Kering atau Bekam Basah, Mana yang Cocok untuk Anda?
Bekas merah bekam sering dianggap tanda racun keluar. Benarkah? Kenali beda kop kering dan bekam basah, manfaat, dan perdebatan di baliknya.
Tim Petos Sehat
10/14/20266 min read


Ilustrasi: terapi kop dengan cangkir isap di punggung, teknik yang dipakai pada kop kering untuk membantu meredakan pegal.
Lingkaran merah keunguan di punggung perenang Michael Phelps sempat jadi perbincangan dunia saat Olimpiade Rio 2016. Banyak orang baru tahu bahwa terapi yang sama sudah lama dikenal di Indonesia sebagai kop atau bekam. Tapi ternyata bekam tidak hanya satu jenis, dan dua jenisnya bekerja dengan cara yang cukup berbeda. Mana yang cocok untuk Anda, dan benarkah bekas merahnya tanda "racun" keluar?
Di artikel ini, Tim Petos Sehat Estetika membahas beda kop kering dan bekam basah, manfaat yang sering dirasakan, apa kata penelitian, hingga perdebatan yang masih berlangsung di dunia ilmiah.
Apa itu terapi kop atau bekam?
Bekam adalah terapi tradisional yang memakai cangkir kaca, plastik, atau silikon untuk menciptakan tekanan negatif (isapan) di permukaan kulit. Terapi ini dikenal di banyak budaya, dari pengobatan tradisional Tiongkok (TCM), Timur Tengah dengan sebutan hijamah, hingga Nusantara dengan sebutan kop atau kop angin. Di Indonesia, bekam sering dicari saat badan terasa pegal, pundak berat, atau "masuk angin".
Apa beda kop kering dan bekam basah?
Perbedaan utamanya ada pada ada atau tidaknya sayatan kecil di kulit:
Kop kering (dry cupping). Cangkir ditempelkan di kulit lalu diisap hingga kulit sedikit terangkat, tanpa melukai kulit. Cangkir bisa didiamkan 5–10 menit atau digeser perlahan di atas kulit yang diberi minyak (sliding cupping). Tidak ada darah yang keluar.
Bekam basah (wet cupping atau hijamah). Setelah diisap beberapa menit, cangkir dilepas, kulit diberi tusukan atau sayatan sangat kecil, lalu cangkir dipasang lagi sehingga sedikit darah tertarik keluar ke dalam cangkir.
Sederhananya, kop kering bekerja dengan isapan saja, sedangkan bekam basah menambahkan pengeluaran sedikit darah. Karena melukai kulit, bekam basah membutuhkan standar kebersihan dan alat steril yang lebih ketat.
Apa manfaat yang sering dirasakan dari bekam?
Orang yang menjalani bekam umumnya melaporkan beberapa manfaat berikut:
Pegal dan kaku berkurang, terutama di leher, pundak, dan punggung.
Otot terasa lebih rileks karena isapan menarik kulit dan jaringan di bawahnya.
Badan terasa hangat dan ringan, sensasi yang sering dicari saat merasa masuk angin.
Tubuh lebih santai, sehingga banyak orang merasa tidur lebih nyenyak setelah terapi.
Apa kata penelitian tentang bekam?
Bekam sudah banyak diteliti, terutama untuk keluhan nyeri otot:
Nyeri leher. Tinjauan sistematis Kim dan rekan di jurnal BMJ Open (2018) mengumpulkan 18 uji klinis. Hasilnya, kelompok yang menjalani bekam mengalami penurunan nyeri dan perbaikan fungsi leher dibanding kelompok yang tidak mendapat terapi, serta saat bekam dipakai sebagai tambahan terapi lain. Efek sampingnya umumnya ringan dan sementara.
Gambaran besar. Tinjauan Cao dan rekan di jurnal PLoS ONE (2012) menelaah 135 uji klinis bekam yang terbit sejak 1992. Bekam paling sering diteliti untuk keluhan seperti nyeri pinggang, herpes zoster, dan jerawat, dengan hasil yang menjanjikan.
Lembaga kesehatan Amerika Serikat (NCCIH) menyebut bekam mungkin membantu meredakan nyeri, tetapi bukti untuk kondisi lain masih terbatas.
Perdebatan apa saja seputar bekam?
Meski populer, bekam masih memicu sejumlah perdebatan. Berikut yang paling sering dibahas:
Kualitas penelitian. Baik tinjauan Cao (2012) maupun Kim (2018) mencatat bahwa banyak penelitian bekam masih berkualitas rendah, misalnya jumlah peserta kecil dan sulit membuat "bekam palsu" sebagai pembanding. Karena itu para peneliti meminta lebih banyak studi yang rapi.
Efek plasebo. Setelah Olimpiade 2016, sebagian ilmuwan berpendapat rasa lega setelah bekam sebagian berasal dari sentuhan, relaksasi, dan harapan. Pendukungnya menjawab bahwa efek pada otot dan aliran darah tetap terasa nyata bagi pasien.
Mitos "darah kotor" dan "racun". Warna bekas kop yang gelap sering dianggap tanda banyak racun. Faktanya, warna itu berasal dari pembuluh darah kecil di bawah kulit yang pecah akibat isapan, mirip memar, dan akan hilang dalam beberapa hari. Warnanya lebih dipengaruhi kekuatan isapan, lama pemasangan, dan kondisi kulit, bukan kadar racun.
Kering atau basah, mana yang lebih baik? Sebagian orang meyakini bekam basah lebih ampuh karena ada darah yang keluar, sementara yang lain memilih kop kering karena lebih nyaman dan tanpa luka. Hingga kini belum ada penelitian kuat yang membuktikan satu jenis lebih unggul untuk semua keluhan.
Kebersihan dan keamanan. NCCIH mengingatkan alat bekam yang dipakai ulang tanpa sterilisasi berisiko menularkan penyakit lewat darah, dan bekam basah yang terlalu sering dapat menurunkan kadar darah. Karena itu, pilih tempat terapi yang bersih dan terapis yang terlatih.
Apa yang perlu disiapkan sebelum dan sesudah bekam?
Makan ringan 1–2 jam sebelumnya agar tidak lemas.
Ceritakan kondisi Anda kepada terapis, termasuk bila sedang hamil, memiliki masalah kulit, atau mengonsumsi obat pengencer darah.
Minum air putih yang cukup setelah terapi.
Hindari mandi air dingin beberapa jam setelah bekam dan jaga area bekas kop tetap bersih.
Biarkan bekas kop hilang sendiri dalam 3–7 hari.
Mau mencoba terapi bekam?
Bila pundak terasa berat, punggung pegal, atau badan sering terasa masuk angin, terapi bekam bisa menjadi pilihan untuk membantu tubuh terasa lebih ringan. Di Petos Sehat Estetika, Bekam/Kop Angin tersedia sebagai layanan tambahan. Terapis mengecek kondisi Anda di lokasi lebih dulu, lalu menyesuaikan titik dan teknik yang paling sesuai. Bekam juga bisa dipadukan dengan:
Petos Fresh untuk relaksasi dan stretching seluruh badan.
Physical Problem Intensive bila keluhan berpusat di satu area, misalnya leher dan pundak.
Petos Sehat Komplit untuk dua area keluhan, terutama yang sudah menahun.
Baca juga: Masuk Angin Itu Sebenarnya Apa? Ini Kata Penelitian dan Kenali Tubuhmu #2: Otot Leher & Bahu
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa beda kop kering dan bekam basah?
Kop kering hanya memakai isapan cangkir tanpa melukai kulit, sedangkan bekam basah menambahkan sayatan sangat kecil sehingga sedikit darah keluar ke dalam cangkir.
Apa manfaat bekam?
Bekam paling banyak dirasakan untuk meredakan pegal dan kaku, terutama di leher, pundak, dan punggung, serta membuat tubuh lebih rileks. Tinjauan di BMJ Open (2018) menunjukkan bekam membantu menurunkan nyeri leher, meski kualitas buktinya masih perlu ditingkatkan.
Apakah bekas merah bekam tanda racun?
Bukan. Bekas merah atau ungu berasal dari pembuluh darah kecil di bawah kulit yang pecah karena isapan, mirip memar, dan biasanya hilang dalam beberapa hari.
Seberapa sering sebaiknya bekam?
Ikuti saran terapis sesuai kondisi Anda. Beri jeda agar kulit pulih dan bekas kop hilang sebelum sesi berikutnya.
Kop kering maupun bekam basah sama-sama terapi tradisional yang banyak dicari untuk meredakan pegal. Bila ingin mencoba, konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.
