Merasa Hebat Bisa Multitasking? Ini Kata Penelitian
Mengerjakan banyak hal sekaligus terasa produktif, tapi benarkah begitu bagi otak dan tubuh? Simak temuan penelitian dan cara bekerja lebih sehat.
Tim Petos Sehat
10/6/20263 min read


Ilustrasi: multitasking di kantor, ketika pekerjaan, ponsel, dokumen, dan tenggat waktu datang bersamaan.
Multitasking atau mengerjakan banyak hal sekaligus sebenarnya membuat otak berpindah-pindah tugas dengan cepat, bukan mengerjakannya bersamaan. Setiap perpindahan memakan waktu dan energi, sehingga pekerjaan justru lebih lambat, lebih mudah salah, dan tubuh lebih cepat lelah. Kebiasaan ini juga sering datang bersama stres, leher dan bahu tegang, serta mata yang cepat capek.
Apa yang sebenarnya terjadi saat kita multitasking?
Saat multitasking, otak tidak benar-benar memproses dua tugas berat sekaligus. Menurut ulasan para ahli saraf yang dirangkum Futura Sciences (Juni 2026), multitasking terdiri dari dua bentuk: mengerjakan dua hal paralel (dual-tasking), misalnya membalas email sambil rapat online, dan berpindah cepat dari satu tugas ke tugas lain (task switching). Keduanya sama-sama membebani kendali kognitif, yaitu "pengatur lalu lintas" di otak yang menjaga fokus dan menyaring gangguan. Otak harus terus menyeimbangkan antara tetap fokus dan berpindah prioritas, dan setiap peralihan itu memakan sedikit tenaga mental.
Penelitian Rubinstein, Meyer, dan Evans yang dimuat di Journal of Experimental Psychology (2001) menunjukkan bahwa setiap perpindahan tugas menimbulkan jeda waktu, dan jeda ini makin panjang bila tugasnya rumit atau asing. Menurut ringkasan American Psychological Association (APA), kerugian kecil dari perpindahan yang terus-menerus ini bisa menghabiskan hingga sekitar 40% waktu produktif seseorang.
Benarkah multitasking membuat kita lebih produktif?
Kebanyakan penelitian menunjukkan sebaliknya: multitasking terasa sibuk dan produktif, tetapi hasil kerjanya cenderung lebih lambat dan kurang teliti. Studi dari Stanford University yang dimuat di jurnal PNAS (2009) menemukan bahwa orang yang terbiasa memakai banyak media sekaligus, misalnya chat, email, dan video, justru lebih sulit menyaring gangguan dan berpindah fokus. Penelitian lanjutan memang memberi hasil yang beragam, namun pesan utamanya sama: fokus pada satu hal tetap lebih efektif untuk pekerjaan yang butuh konsentrasi.
Pengecualiannya adalah kegiatan otomatis yang tidak butuh banyak pikiran, misalnya berjalan sambil mengobrol atau mendengarkan musik saat beres-beres rumah.
Apa dampak multitasking bagi kesehatan?
Multitasking tidak merusak otak secara permanen, tetapi membuat kerja lebih lambat, kurang teliti, dan lebih mudah terganggu, terutama saat tugas yang digabungkan sama-sama butuh perhatian, daya ingat, dan pengambilan keputusan. Sebuah studi simulasi mengemudi tahun 2025 yang diulas Futura Sciences menunjukkan bahwa menggabungkan dua tugas menurunkan performa, dan berpindah-pindah tugas dengan cepat menambah kesulitan. Bila menjadi pola kerja sehari-hari, tubuh dan pikiran ikut merasakan dampaknya:
Stres meningkat. Pikiran yang terus terbagi membuat tubuh berada dalam mode siaga, sehingga lebih mudah merasa cemas dan kewalahan.
Leher, bahu, dan punggung tegang. Multitasking biasanya terjadi di depan laptop dan ponsel, sambil menahan posisi tubuh yang sama berjam-jam. Otot yang tegang karena stres ditambah postur menunduk membuat keluhan seperti leher kaku lebih sering muncul.
Mata cepat lelah dan sakit kepala. Berpindah antara layar laptop, ponsel, dan dokumen membuat mata terus menyesuaikan fokus.
Kurang bergerak. Saat sibuk mengerjakan banyak hal, kita lupa berdiri dan berjalan. Lama-lama ini menjadi gaya hidup sedentary.
Tidur terganggu. Pikiran yang masih "berpindah-pindah" sampai malam, ditambah kebiasaan doom scrolling, membuat tubuh sulit beristirahat.
Bagaimana cara bekerja lebih fokus dan sehat?
Kuncinya adalah mengerjakan satu hal dalam satu waktu dan memberi jeda yang cukup bagi otak dan tubuh. Beberapa kebiasaan yang bisa dicoba:
Kelompokkan tugas sejenis. Balas chat dan email di jam tertentu, misalnya tiap 1 jam, bukan setiap kali notifikasi masuk.
Gunakan blok waktu fokus. Kerjakan satu tugas selama 25–50 menit tanpa gangguan, lalu istirahat 5–10 menit.
Matikan notifikasi yang tidak penting. Letakkan ponsel di luar jangkauan tangan saat mengerjakan tugas penting.
Buat daftar prioritas. Tulis 3 tugas terpenting hari ini dan selesaikan satu per satu.
Gerakkan tubuh di setiap jeda. Berdiri, putar bahu, tengokkan leher perlahan ke kiri dan kanan, lalu berjalan sebentar.
Istirahatkan mata. Setiap 20 menit, lihat benda yang jauh selama sekitar 20 detik.
Beri ruang untuk melambat. Prinsip slow living membantu kita menikmati satu kegiatan tanpa terburu-buru.
Kapan tubuh perlu dibantu terapi?
Bila setelah hari-hari yang padat leher, bahu, atau punggung terasa kaku dan berat meski sudah beristirahat, terapi manual bisa membantu tubuh kembali rileks. Di Petos Sehat Estetika, terapis mengecek kondisi Anda di lokasi lebih dulu, lalu menyesuaikan tekniknya:
Petos Fresh untuk relaksasi dan stretching seluruh badan setelah pekan yang melelahkan, termasuk teknik kretek khas Petos.
Physical Problem Intensive bila keluhan berpusat di satu area, misalnya leher dan bahu yang tegang karena lama di depan layar.
Akupresur dan Tuina, teknik dari Pengobatan Tradisional Tiongkok (TCM), untuk membantu meredakan otot yang kaku.
Baca juga: Bingung Pilih Layanan Petos Sehat? Ini Panduannya
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apakah multitasking selalu buruk?
Tidak selalu. Menggabungkan kegiatan ringan yang otomatis, seperti berjalan sambil mengobrol, umumnya tidak masalah. Yang perlu dihindari adalah mengerjakan beberapa tugas yang sama-sama butuh konsentrasi.
Apakah perempuan lebih pandai multitasking?
Anggapan ini sering terdengar, tetapi hasil penelitian belum konsisten. Pada dasarnya otak semua orang tetap perlu berpindah fokus saat mengerjakan banyak hal.
Bagaimana cara berhenti dari kebiasaan multitasking?
Mulai dari satu blok waktu fokus setiap hari, matikan notifikasi selama blok itu, lalu tambah perlahan.
Mengapa bahu terasa berat setelah hari yang sibuk?
Stres dan posisi duduk yang sama berjam-jam membuat otot leher dan bahu terus menegang. Jeda bergerak dan peregangan membantu, dan terapi manual bisa menjadi pilihan bila keluhan berulang.
Bekerja keras tidak harus berarti mengerjakan semuanya sekaligus. Bila tubuh sudah memberi tanda lelah, konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.
PETOS SEHAT ESTETIKA
Klinik terapi manual untuk membantu meredakan keluhan otot, tulang, dan sendi.
Hubungi Kami
JAM LAYANAN
petossehat@gmail.com
Senin – Minggu, 08.00 – 21.00
© 2026 Petos Sehat Estetika. All rights reserved. · Karir · Portal Staf
+6285143764545
