Saraf di Atas Hidung yang Jadi Alat Deteksi Tubuh
Bukan hanya untuk mencium aroma, saraf di atas rongga hidung ini bisa memberi sinyal tentang kondisi tubuh. Kenali saraf penciuman di Kenali Tubuhmu #28.
Tim Petos Sehat
11/4/20264 min read


Ilustrasi: pria memejamkan mata sambil mencium aroma lemon dan cengkih, contoh latihan untuk menjaga saraf penciuman
Bau gas bocor di dapur, asap dari kabel yang terbakar, atau susu yang sudah basi. Kita sering langsung waspada bahkan sebelum melihat sumbernya. Di balik reaksi cepat ini ada saraf kecil yang letaknya tepat di atas rongga hidung. Menariknya, para peneliti menemukan saraf ini bukan hanya mendeteksi bau, tetapi juga bisa memberi "sinyal" tentang kondisi tubuh kita. Sinyal seperti apa?
Di Kenali Tubuhmu #28 ini, Tim Petos Sehat Estetika mengajak Anda berkenalan dengan saraf penciuman. Edisi sebelumnya membahas saraf siatik, saraf terbesar di tubuh.
Di mana letak saraf penciuman?
Saraf penciuman (saraf kranial pertama atau nervus olfaktorius) berada di atap rongga hidung, tepat di bawah otak, dan terhubung ke bulbus olfaktorius, bagian otak yang mengolah bau. Serabut sarafnya menembus lempeng tulang tipis berlubang-lubang di antara rongga hidung dan rongga kepala. Inilah satu-satunya indra yang sinyalnya langsung menuju area otak yang mengatur emosi dan ingatan, sehingga sebuah aroma bisa tiba-tiba membangkitkan kenangan lama.
Bagaimana hidung mendeteksi bau?
Manusia memiliki sekitar 400 jenis reseptor penciuman. Setiap bau mengaktifkan kombinasi reseptor yang berbeda, seperti kode kunci. Penelitian di jurnal Science (2014) sempat memperkirakan manusia dapat membedakan triliunan aroma, meski angka ini kemudian dipertanyakan peneliti lain, sehingga jumlah pastinya masih belum diketahui.
Uniknya, sel saraf penciuman termasuk sedikit sel saraf yang terus diperbarui sepanjang hidup dari sel punca di lapisan hidung. Pada hewan pengerat, pembaruan ini terjadi setiap 6–8 minggu.
Mengapa saraf penciuman disebut alat deteksi?
Pertama, sebagai alarm keselamatan. Penelitian Virginia Commonwealth University (2004) menemukan orang yang kehilangan penciuman hampir dua kali lebih sering mengalami kejadian berbahaya, seperti masakan gosong, makan makanan basi, kebocoran gas yang tidak tercium, hingga kebakaran.
Kedua, sebagai sinyal awal kondisi saraf dan otak. Penurunan penciuman dialami sekitar 90% pasien Parkinson tahap awal dan bisa muncul beberapa tahun sebelum gejala gerak seperti tremor (Neuroscience Bulletin, 2014). Penelitian University of Chicago di Journal of the American Geriatrics Society (2017) pada hampir 3.000 orang usia 57–85 tahun menemukan mereka yang gagal mengenali setidaknya 4 dari 5 aroma umum berisiko lebih dari dua kali lipat mengalami demensia dalam 5 tahun.
Ini temuan hubungan, bukan diagnosis. Hilangnya penciuman bisa disebabkan banyak hal, termasuk pilek, sinusitis, atau infeksi virus. Pada masa pandemi, diperkirakan sekitar 80% pasien COVID-19 mengalami gangguan penciuman, dan sebagian besar pulih dalam waktu relatif singkat.
Apakah penciuman menurun seiring usia?
Ya. Penelitian di jurnal JAMA (2002) pada 2.491 orang usia 53–97 tahun menemukan 24,5% mengalami gangguan penciuman, dan angkanya naik menjadi 62,5% pada usia 80–97 tahun. Banyak orang tua tidak menyadarinya, sehingga keluarga perlu lebih waspada terhadap risiko gas bocor atau makanan basi di rumah.
Bisakah penciuman dilatih?
Bisa dicoba lewat latihan penciuman. Penelitian Hummel dan rekan di jurnal Laryngoscope (2009) meminta peserta menghirup empat aroma, yaitu mawar, kayu putih, lemon, dan cengkih, masing-masing sekitar 10 detik, dua kali sehari selama 12 minggu. Hasilnya, 28% peserta yang berlatih mengalami perbaikan, dibanding 6% pada kelompok tanpa latihan.
Di rumah, Anda bisa memakai bahan dapur yang mudah didapat seperti kulit jeruk, cengkih, atau minyak kayu putih. Cium perlahan sambil membayangkan aromanya, lakukan rutin setiap hari.
Cara menjaga indra penciuman
Hindari asap rokok, karena merokok berkaitan dengan penurunan penciuman. Jaga kebersihan hidung saat pilek dan jangan membiarkan sinusitis berlarut-larut. Pasang detektor asap atau gas di dapur bila ada anggota keluarga lanjut usia. Bila penciuman berkurang tanpa sebab jelas seperti pilek, dan tidak kunjung membaik, periksakan ke dokter THT.
Napas yang lega juga membantu indra penciuman bekerja optimal. Posisi kepala dan leher yang terlalu lama menunduk dapat membuat otot leher dan bahu tegang serta napas terasa kurang lega. Baca juga: Kenali Tubuhmu: tulang rawan hidung dan Saraf: kabel listrik tubuh.
Layanan yang sesuai di Petos Sehat Estetika
Bila leher, bahu, dan kepala terasa tegang sehingga napas kurang lega, terapis Petos Sehat Estetika dapat membantu lewat Physical Problem Intensive yang berfokus pada leher dan bahu. Layanan tambahan Totok Aura & Wajah serta Gurah juga tersedia. Terapis mengecek kondisi lebih dulu dan memadukan Akupresur dan Tuina sesuai respons tubuh. Gangguan penciuman tetap perlu diperiksakan ke dokter.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa nama saraf penciuman?
Saraf kranial pertama atau nervus olfaktorius, yang terletak di atap rongga hidung dan terhubung ke bulbus olfaktorius di otak.
Apakah hilangnya penciuman tanda penyakit serius?
Tidak selalu. Pilek, sinusitis, dan infeksi virus adalah penyebab yang sering. Namun penurunan penciuman tanpa sebab jelas yang menetap sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Apa hubungan penciuman dengan Parkinson?
Sekitar 90% pasien Parkinson tahap awal mengalami penurunan penciuman, dan gejala ini bisa muncul bertahun-tahun sebelum gejala gerak.
Bagaimana cara melatih penciuman?
Hirup empat aroma seperti mawar, kayu putih, lemon, dan cengkih masing-masing sekitar 10 detik, dua kali sehari selama 12 minggu.
Apakah penciuman menurun karena usia?
Ya. Penelitian di JAMA 2002 menemukan gangguan penciuman dialami 62,5% orang usia 80–97 tahun.
Leher dan bahu sering tegang? Konsultasikan dengan terapis profesional Petos Sehat Estetika lewat WhatsApp 085143764545 atau reservasi di reservasi.petossehat.id. Cek 11 lokasi kami di petossehat.id/lokasi-kami.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.
