Terlihat Sehat dan Bugar, Kok Bisa Kena Serangan Jantung?
Rajin olahraga dan tampak bugar, tapi kena serangan jantung? Simak temuan The Lancet, Circulation, dan INTERHEART, serta langkah mencegahnya sejak dini.
Tim Petos Sehat
10/14/20268 min read


Ilustrasi: pria bugar sedang lari pagi di trotoar jalan kota. Tubuh yang terlihat sehat tidak selalu mencerminkan kondisi jantungnya.
Rajin lari pagi, badan atletis, jarang sakit, dan hasil timbangan selalu ideal. Lalu suatu hari, kabar mengejutkan datang: ia terkena serangan jantung. Cerita seperti ini makin sering kita dengar, dari pesepeda di jalur car free day hingga pekerja kantoran usia 30-an. Bagaimana mungkin tubuh yang terlihat sehat menyimpan masalah sebesar itu?
Di artikel ini, Tim Petos Sehat Estetika merangkum apa kata penelitian internasional tentang serangan jantung pada orang yang tampak bugar, faktor risiko yang sering tidak terlihat, kondisi di Indonesia, dan langkah nyata untuk mencegahnya.
Kenapa orang yang terlihat bugar bisa terkena serangan jantung?
Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung tersumbat, biasanya karena plak di pembuluh darah koroner pecah lalu memicu gumpalan darah. Plak ini terbentuk perlahan selama bertahun-tahun tanpa rasa sakit, sehingga tidak tampak dari luar. Badan yang kencang dan stamina yang kuat tidak otomatis berarti pembuluh darahnya bersih.
Tanpa faktor risiko yang jelas. Penelitian Figtree dan rekan di jurnal The Lancet (2021) menganalisis 62.048 pasien serangan jantung pertama di Swedia. Sebanyak 14,9% di antaranya tidak memiliki empat faktor risiko klasik, yaitu hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, dan merokok. Yang mengejutkan, angka kematian 30 hari kelompok ini justru lebih tinggi (11,3% dibanding 7,9%).
Atlet pun bisa memiliki plak. Penelitian Aengevaeren dan rekan di jurnal Circulation (2017) memeriksa 284 pria aktif berolahraga usia 45 tahun ke atas. Lebih dari separuhnya (53%) memiliki pengapuran pembuluh darah koroner. Kabar baiknya, pada kelompok paling aktif, plaknya cenderung berjenis lebih stabil.
Artinya, olahraga tetap sangat bermanfaat, tetapi bukan "kartu kebal". Kesehatan jantung perlu dicek, bukan hanya dirasakan.
Benarkah serangan jantung bisa terjadi tanpa gejala?
Ya, sebagian serangan jantung berlangsung diam-diam. Studi ARIC terhadap hampir 9.500 orang dewasa di Amerika Serikat yang terbit di jurnal Circulation (2016) menemukan 45% serangan jantung tergolong "silent", yaitu tidak disertai gejala khas atau dikira masuk angin, kelelahan, atau nyeri otot biasa. Orang yang pernah mengalaminya memiliki risiko kematian 34% lebih tinggi, seperti dilaporkan CardioSmart (American College of Cardiology).
Apa saja faktor risiko yang sering tidak terlihat?
Studi besar INTERHEART yang dipimpin Salim Yusuf di jurnal The Lancet (2004) melibatkan hampir 30.000 orang di 52 negara. Sembilan faktor yang bisa diubah ternyata menjelaskan sekitar 90% risiko serangan jantung pada pria dan 94% pada wanita, seperti dirangkum Wiki Journal Club:
Kolesterol tidak seimbang, sering tanpa gejala dan hanya ketahuan lewat cek darah.
Merokok, termasuk rokok elektrik dan paparan asap rokok.
Stres psikologis, dari tekanan kerja, keuangan, hingga kurang istirahat.
Lemak perut, yang bisa dimiliki orang dengan berat badan normal.
Tekanan darah tinggi, dijuluki "silent killer" karena jarang terasa.
Diabetes atau gula darah yang mulai naik.
Kurang sayur dan buah setiap hari.
Kurang aktivitas fisik secara rutin.
Konsumsi alkohol.
Selain itu, riwayat serangan jantung dini dalam keluarga dan polusi udara juga berperan. WHO mencatat polusi udara sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung, sesuatu yang relevan saat musim asap karhutla.
Bagaimana kondisi penyakit jantung di Indonesia?
Penyakit jantung adalah penyebab kematian tertinggi di Indonesia, seperti disampaikan dalam rilis Kementerian Kesehatan. Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyebut kasus serangan jantung pada usia di bawah 40 tahun meningkat sekitar 2% setiap tahun. Secara global, WHO mencatat sekitar 19,8 juta kematian akibat penyakit kardiovaskular pada 2022, dan sekitar 85% di antaranya karena serangan jantung dan stroke.
Langkah apa untuk mencegah serangan jantung?
American Heart Association merangkum kesehatan jantung dalam delapan kebiasaan yang disebut Life's Essential 8. Penelitian awal yang dipaparkan dalam pertemuan ilmiah AHA 2023 menemukan orang usia 50 tahun dengan skor tinggi dapat hidup 5–9 tahun lebih lama dibanding skor rendah, seperti dilaporkan ScienceDaily. Berikut langkah praktisnya:
Cek angka jantung secara rutin. Ukur tekanan darah, gula darah, dan kolesterol minimal setahun sekali sejak usia 20-an, meski merasa sehat. Kemenkes menyediakan skrining penyakit tidak menular di puskesmas.
Berhenti merokok dan hindari asap rokok.
Bergerak minimal 150 menit per minggu, misalnya jalan cepat 30 menit lima kali seminggu. Ide menambah langkah ada di artikel langkah per hari yang ideal.
Naikkan intensitas olahraga bertahap, selalu pemanasan, dan jangan memaksakan diri saat badan kurang fit atau kurang tidur.
Perbanyak sayur, buah, dan protein sehat, kurangi garam, gorengan, dan minuman manis. Contoh menu pagi ada di artikel sarapan pagi.
Tidur 7–9 jam setiap malam.
Jaga lingkar perut, bukan hanya angka timbangan.
Kelola stres dengan jeda santai, hobi, dan waktu bersama keluarga, seperti dibahas di artikel dolce far niente.
Kenali riwayat keluarga. Bila ada anggota keluarga yang terkena serangan jantung di usia muda, ceritakan saat pemeriksaan agar skrining dilakukan lebih awal.
Jangan abaikan sinyal tubuh. Nyeri atau rasa tertekan di dada yang menjalar ke lengan, leher, atau rahang, disertai sesak napas atau keringat dingin, perlu segera ditangani di IGD terdekat atau melalui layanan darurat 119.
Peran tubuh yang rileks dalam mengelola stres
Stres termasuk salah satu faktor terbesar dalam studi INTERHEART. Tubuh yang tegang terus-menerus sering terasa sebagai pundak keras, leher kaku, dan tidur tidak nyenyak. Selain olahraga dan istirahat cukup, relaksasi tubuh bisa membantu Anda melepas ketegangan setelah pekan yang padat. Di Petos Sehat Estetika, terapis mengecek kondisi Anda di lokasi lebih dulu, lalu menyesuaikan layanannya:
Petos Fresh untuk relaksasi dan stretching seluruh badan.
Physical Problem Intensive bila ketegangan berpusat di satu area, misalnya leher dan pundak.
Totok Aura & Wajah, layanan tambahan agar wajah dan pikiran terasa lebih segar.
Bila Anda memiliki riwayat penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah, sampaikan kepada terapis sebelum sesi dimulai. Relaksasi melengkapi, bukan menggantikan, pemeriksaan jantung secara rutin.
Baca juga: Bingung Pilih Layanan Petos Sehat? Ini Panduannya
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Kenapa orang yang sehat dan bugar bisa terkena serangan jantung?
Karena plak di pembuluh darah jantung bisa terbentuk bertahun-tahun tanpa gejala. Penelitian di The Lancet (2021) menemukan 14,9% pasien serangan jantung tidak memiliki faktor risiko klasik, dan studi di Circulation (2017) menemukan pengapuran pembuluh darah koroner pada lebih dari separuh pria yang aktif berolahraga.
Apakah serangan jantung selalu terasa nyeri dada?
Tidak. Studi ARIC menemukan sekitar 45% serangan jantung tergolong silent, yaitu tanpa gejala khas atau dikira keluhan biasa.
Apa faktor risiko serangan jantung yang bisa diubah?
Studi INTERHEART menemukan sembilan faktor: kolesterol tidak seimbang, merokok, stres, lemak perut, tekanan darah tinggi, diabetes, kurang sayur dan buah, kurang aktivitas fisik, dan alkohol. Bersama-sama, faktor ini menjelaskan sekitar 90% risiko pada pria dan 94% pada wanita.
Bagaimana cara mencegah serangan jantung?
Cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara rutin, berhenti merokok, bergerak minimal 150 menit per minggu, makan sayur dan buah, tidur 7–9 jam, jaga lingkar perut, dan kelola stres.
Apakah olahraga berat berbahaya bagi jantung?
Olahraga teratur justru melindungi jantung. Yang perlu dihindari adalah memaksakan diri tanpa pemanasan, saat kurang tidur, atau tanpa pernah memeriksakan kondisi jantung.
Tubuh yang terlihat bugar adalah awal yang baik, tetapi jantung tetap perlu dicek dan dijaga. Bila stres sudah terasa di pundak, leher, atau punggung, konsultasikan keluhan Anda dengan terapis profesional Petos Sehat melalui WhatsApp 085143764545 atau lakukan reservasi di reservasi.petossehat.id. Petos Sehat Estetika hadir di 11 lokasi, buka setiap hari 08.00–21.00 waktu setempat; cek lokasi terdekat di petossehat.id/lokasi-kami.
Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan medis.
